Showing posts with label Jusuf Kalla. Show all posts
Showing posts with label Jusuf Kalla. Show all posts

Friday, 30 August 2013

Marzuki Alie Harapkan Mahfud, Tidak Risau JK-Rustriningsih Tolak Ikut Konvensi


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Marzuki Alie, menghargai sikap Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD yang menolak ikut konvensi Capres Partai Demokrat.
"Yang saya harapkan sebenarnya Pak Mahfud MD ikut konvensi. Kalau kader partai lain saya nggak terlalu risau," kata Marzuki di Istana Presiden Jakarta, Jumat (30/8/2013).
Menurut Marzuki dia tidak risau jika Jusuf Kalla (JK) atau Rustriningsihtidak ikut konvensi.
"Memang sebagai kader partai loyal kepada partai. Seperti Pak JK, harusnya loyalnya ke Golkar. Kayak Ibu Rustriningsih  dia kan masih kader PDIP.  Itu kita hargai. Sebagai kader, tapi sebagai kader ideologis. Kalau yang non partisan, seperti Pak Mahfud, itu yang kita harapkan. Tapi saya kira ada pertimbangan-pertimbangan lain Pak Mahfud," kata Marzuki.
Marzuki yang juga Capres Peserta Konvensi Demokrat ini mengatakan  kewenangan untuk capres itu memang di Majelis Tinggi Demokrat.
"Tapi Majelis Tinggi membuat sistem. Itu clear kok, kewenangan kan Majelis Tinggi. Sistem itu yang jadi dasar Majelis Tinggi untuk memutuskan. Jd nggak usah ragu lagi," kata dia.


Thursday, 29 August 2013

Akbar Tandjung: Jusuf Kalla dan Jokowi Pasangan Ideal


TRIBUNNEWS.COM - Politisi senior Partain Golkar, Akbar Tandjung, mendukung kesiapan mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK) berduet dengan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo pada Pemilu Presiden 2014. Akbar Tandjung mengaku telah lama mendengar cerita kedekatan JK dengan Jokowi.
"Jusuf Kalla siap, bahkan dia menyatakan hubungan saya (JK) dengan Jokowi sudah lama," kata Akbar Tandjung di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (29/8/2013). Menurut Akbar, pasangan tersebut sangat bagus dan berpeluang di Pemilu 2014. "Karena dia bagus, pasangan Jawa dan non Jawa," kata Akbar.
Lalu apakah Akbar mendukung pasangan tersebut? "Terserah Pak JK," katanya.
Sebelumnya Jusuf Kalla telah menyatakannya kesiapannya maju dalam pemilihan presiden dan wakil presiden tahun 2014, bersama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi.
"Bagi saya, hanya satu, selama itu bisa bermanfaat bagi rakyat dan negara, saya siap melaksanakannya jika bersama Pak Jokowi (Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta)," kata Jusuf Kalla, Selasa (27/8/2013) siang.
Menurut Jusuf Kalla, Jokowi termasuk sosok yang didorongnya saat akan menjadi calon gubernur DKI Jakarta tahun lalu. Jokowi, menurut Jusuf Kalla, adalah sosok yang memiliki kepribadian yang baik, memiliki kemampuan, bisa mengambil keputusan, dan mampu memenuhi aspirasi rakyat. "Lebih penting lagi, jika saya bersama Jokowi, ada yang bilang, itu sebuah harmoni, antara perwakilan Jawa dan luar Jawa," tambahnya.
Namun Kalla menyatakan, semuanya itu kembali lagi pada sikap Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan DPP PDI-P serta rakyat sendiri.

PDIP Pertimbangkan Jokowi Berduet dengan JK


Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PDI Perjuangan menerima wacana duet Jusuf Kalla- Joko Widodo pada Pemilu 2014. Hal itu terungkap setelah JK panggilan akrab Jusuf Kalla menyatakan kesiapannya berduet dengan Jokowi.
"Wacana itu semuanya kita tampung dan jadi masukan yang kita pertimbangan," kata Ketua DPP PDIP Puan Maharani di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (29/8/2013).
Namun, Puan mempertanyakan apakah JK mau bergabung ke PDI Perjuangan. Sementara, JK masih tercatat sebagai politisi Golkar.
"Apakah benar pak JK mau ikut bersama PDIP. Kan Golkar sudah punya jadi capres. Kalau Pak JK ikut ke PDIP mewakili siapa Golkar atau secara pribadi," tuturnya.
Mengenai hasil survei pasangan tersebut yang menguat, Puan menilai hal itu wajar. Apalagi dinamika politik terus berkembang.
"Kita tidak tahu menjelang pileg mendatang. Masih ada tiga bulan sampai pileg apakah kita akan pileg atau kemudian nggak. Ini komunikasi intensi," ujarnya.
Sebelumnya, Wakil Presiden periode 2004-2009 Jusuf Kallamenegaskan, siap maju dalam pemilihan presiden dan wakil presiden tahun 2014, bersama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi.
"Bagi saya, hanya satu, selama itu bisa bermanfaat bagi rakyat dan negara, saya siap melaksanakannya jika bersama Pak Jokowi (Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta)," kata Jusuf Kalla, Selasa (27/8/2013) siang.
Menurut Jusuf Kalla, Jokowi termasuk sosok yang didorongnya saat akan menjadi calon gubernur DKI Jakarta tahun lalu.
Jokowi, menurut Jusuf Kalla, adalah sosok yang memiliki kepribadian yang baik, memiliki kemampuan, bisa mengambil keputusan, dan mampu memenuhi aspirasi rakyat.
"Lebih penting lagi, jika saya bersama Jokowi, ada yang bilang, itu sebuah harmoni, antara perwakilan Jawa dan luar Jawa," tambahnya.
Namun, Kalla menyatakan, semuanya itu kembali lagi pada sikap Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan DPP PDI-P serta rakyat sendiri.


PDIP Punya Kedekatan Secara Baik Dengan JK


Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Wakil PresidenJusuf Kalla menyatakan siap maju pada Pemilu 2014 bersama Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo. Jokowi yang notabennya kader PDIP belum memberi jawaban hingga kini.
Soal itu, Ketua DPP PDIP Maruarar Sirait mengatakan pihaknya belum membahas mengenai calon presiden pada pemilu 2014. Meskipun sejumlah survei menempatkan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri dan Joko Widodo di peringkat teratas calon presiden.
"Potret hari ini, dan dua bulan lalu berbeda tergantung prestasi seseorang dan pandangan publik. Bagi PDIP menjadi penting untuk pemilihan presiden untuk berhati-hati," kata Maruarar di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (29/8/2013).
Maruarar juga mengakui pihaknya mencermati setiap hasil survei. Ia melihat dengan sendiri bagaimana publik merespon Joko Widodo bila berkunjung ke daerah. Setidaknya, Maruarar bersama Jokowi telah berkunjung ke Jawa Barat, Jawa Timur, Bali dan Sumatera Utara.
"Respon publik di daerah memang terlihat," ujarnya.
Sementara mengenai JK, Anggota Komisi XI itu mengakui partainya dekat dengan Ketua PMI itu. JK, kata Maruarar, merupakan negarawan dan tokoh bangsa. Hubungan PDIP dan JK pun sangat baik.
Marurar mencontohkan saat JK menggelar acara pernikahan anaknya. "Bu Mega, Mas Tjahjo, Mba Puan dan saya," katanya.
Namun, diakui belum ada pembicaraan mengenai pencapresan. "Kegiatan PDIP, Pak JK kita undang dan hadir seperti di Jawa Tengah atau di Jakarta soal Rohingya, kami selalu komunikasi," ungkapnya.


Wacana Calon Presiden, PDIP Akui Hubungan Baik Dengan Jusuf Kalla

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla siap maju pada Pemilu 2014 dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Jokowi yang merupakan kader PDIP belum memberi jawaban hingga kini.
Ketua DPP PDIP Maruarar Sirait mengatakan pihaknya belum membahas mengenai calon presiden pada pemilu 2014. Meskipun sejumlah survei menempatkan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri dan Joko Widodo di peringkat teratas calon presiden.
"Potret hari ini, dan dua bulan lalu berbeda tergantung prestasi seseorang dan pandangan publik. Bagi PDIP menjadi penting untuk pemilihan presiden untuk berhati-hati," kata Maruarar di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (29/8/2013).
Maruarar juga mengakui pihaknya mencermati setiap hasil survei. Ia melihat dengan sendiri bagaimana publik merespon Joko Widodo bila berkunjung ke daerah. Setidaknya, Maruarar bersama Jokowi telah berkunjung ke Jawa Barat, Jawa Timur, Bali dan Sumatera Utara.
"Respon publik di daerah memang terlihat," ujarnya.
Sementara mengenai JK, Anggota Komisi XI itu mengakui partainya dekat dengan Ketua PMI itu. JK, kata Maruarar, merupakan negarawan dan tokoh bangsa. Hubungan PDIP dan JK pun sangat baik.
Marurar mencontohkan saat JK menggelar acara pernikahan anaknya. "Bu Mega, Mas Tjahjo, Mba Puan dan saya," katanya.
Namun, diakui belum ada pembicaraan mengenai pencapresan. "Kegiatan PDIP, Pak JK kita undang dan hadir seperti di Jawa Tengah atau di Jakarta soal Rohingya, kita selalu komunikasi," ujarnya.

Wednesday, 28 August 2013

JK Tolak Tawaran Ikut Konvensi Demokrat


JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla memastikan tidak akan ikut proses Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat. Kepastian itu disampaikan JK dalam pertemuan dengan Komite Konvensi Capres Demokrat di kediaman Kalla di Jakarta, Selasa (27/8/2013) malam.
Hal itu dikatakan Sekretaris Komite Konvensi Capres Demokrat Suaidi Marassabessy di Wisma Kodel, Jakarta, Rabu (28/8/2013).
Sebelumnya, Ketua Komite Maftuh Basyuni dan Wakil Ketua Komite Taufiqurrachman Ruki menemui Kalla untuk meminta jawaban atas tawaran mengikuti Konvensi.
Suaidi mengatakan, alasan yang disampaikan karena Kalla pernah menjadi Ketua Umum DPP Partai Golkar. Masalahnya, jika ikut Konvensi dan ternyata terpilih sebagai capres Demokrat, konsekuensinya Kalla harus menjadi kader dan berada di jabatan struktural Demokrat.
"Jadi kita hormati (penolakan JK)," kata dia.
Seperti diberitakan, Kalla pernah berseberangan dengan keputusan Golkar yang mengusung Wiranto dan KH Solahuddin Wahid pada Pilpres 2004. Kemudian, ia memilih maju di pilpres mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono hingga akhirnya menang. Kalla lalu terpilih menjadi Ketua Umum Golkar periode 2004-2009.
Dalam berbagai kesempatan, Kalla menyatakan ingin kembali maju pada Pilpres 2014 setelah kalah pada Pilpres 2009 ketika berpasangan dengan Wiranto. Namun, ia tidak memiliki kendaraan politik karena Golkar sudah menetapkan Aburizal Bakrie alias Ical sebagai capres.
Dalam Rapimnas III tahun 2012, Golkar membuat aturan bahwa kader Golkar yang tidak mendukung pencapresan Ical akan dikeluarkan dari partai.

Siap berduet dengan Jokowi

Sebelumnya, Kalla menyambut baik dan siap jika dirinya masih dipercaya untuk mengabdi kepada rakyat dan negara pada pemilihan presiden dan wakil presiden tahun depan. Namun, semua itu berpulang pada kehendak Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang akan mengusungnya dan rakyat itu sendiri.

”Bagi saya, hanya satu, selama itu bisa bermanfaat bagi rakyat dan negara, saya siap melaksanakannya jika bersama Pak Jokowi (Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta),” kata Kalla saat dihubungi Kompas, Selasa (27/8/2013) siang.
KOMPAS IMAGES/VITALIS YOGI TRISNA, KOMPAS/HENDRA A SETYAWANGubernur DKI Jakarta Joko Widodo dan mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla

Menurut Kalla, Jokowi termasuk sosok yang didorongnya saat akan menjadi calon gubernur DKI Jakarta tahun lalu. ”Jokowi sosok yang memiliki kepribadian yang baik, punya kemampuan, bisa mengambil keputusan, dan memenuhi aspirasi rakyat. Lebih penting lagi, jika saya bersama Jokowi, ada yang bilang, itu sebuah harmoni, antara perwakilan Jawa dan luar Jawa,” tuturnya.

Namun, Kalla menyatakan, semuanya itu kembali lagi pada sikap Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri dan DPP PDI-P serta rakyat sendiri.

”Apakah memang mandat itu dipercayakan kepada saya? Kita lihat saja. Buat saya sendiri, sekarang ini, saya hanya melayani masyarakat di Palang Merah Indonesia (PMI) ataupun Dewan Masjid dan lainnya. Kalau itu dilihat sebagai sebuah pekerjaan, bagi saya itu hanya pengabdian saja. Tak lebih,” papar Kalla.
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

JK Tolak Konvensi, Golkar Lega


JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Wakil Presiden RI yang juga politisi senior Partai Golkar, Jusuf Kalla, akhirnya menolak undangan Komite Konvensi Capres Partai Demokrat. Bagaimana tanggapan Partai Golkar?

"Kami bukan bersyukur, tetapi kami lega. Karena kalau (JK) ke sana (Demokrat), kami sangat kehilangan," ujar Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (28/8/2013).

Priyo menjelaskan, Jusuf Kalla memiliki hak untuk menolak undangan komite konvensi. "Mungkin beliau punya pertimbangan. Saya lega karena Pak JK tetap bersama kami," kata Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat ini.

Jusuf Kalla menolak
JK memastikan tidak akan ikut proses Konvensi Capres Partai Demokrat. Kepastian itu disampaikan JK dalam pertemuan dengan Komite Konvensi Capres Demokrat di kediaman Kalla di Jakarta, Selasa (27/8/2013) malam.

Hal itu dikatakan Sekretaris Komite Konvensi Capres Demokrat, Suaidi Marassabessy, di Wisma Kodel, Jakarta, Rabu (28/8/2013). Ia mengatakan, alasan ini disampaikan karena Kalla pernah menjadi Ketua Umum DPP Partai Golkar. Masalahnya, jika ikut konvensi dan ternyata terpilih sebagai capres Demokrat, konsekuensinya Kalla harus menjadi kader dan berada di jabatan struktural Partai Demokrat.

"Jadi kita hormati (penolakan JK)," kata dia.

Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2013/08/28/1607572/JK.Tolak.Konvensi.Golkar.Lega
Editor : Hindra Liauw

Golkar Lega JK Batal Ikut Konvensi Capres Demokrat


Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Presiden RI periode 2004-2009 Jusuf Kalla menyatakan menolak mengikuti Konvensi capres Demokrat. Partai Golkar mengaku lega dengan keputusan Ketua PMI itu.
"Bukan bersyukur tetapi kami lega. Karena kalau JK ke sana (Demokrat) kami sangat kehilangan," kata Ketua DPP Golkar Priyo Budi Santoso di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (28/8/2013).
Priyo mengatakan JK memiliki hak untuk tidak mengikuti konvensi. Sehingga semua pihak harus menghormati pilihan tersebut.
"Mungkin beliau punya pertimbangan dan dari sisi saya sebagai Golkar saya lega, karena Pak JK tetap bersama kami," ujarnya.
Ketua DPP Golkar lainnya, Hajriyanto Y Tohari juga telah memperkirakan keputusan tersebut. Sebab, JK merupakan kader Golkar dan pernah menduduki puncak kepemimpinan sebagai ketua umum.
"Rasanya tidak mungkin tokoh yangg sangat bijaksana dan dihormati sebagai mantan ketum Golkar, seperti beliau sampai hati untuk melepaskan keanggotaannya di Golkar," ungkapnya.
Sebelumnya, konvensi Calon Presiden Partai Demokrat dipastikan minus sosok Jusuf Kalla. Ketua PMI tersebut tak bersedia menerima undangan Komite Konvensi untuk hadir dalam wawancara prakonvensi.
"Pak JK dipastikan tidak ikut. Dan undangannya belum sempat diberikan," ujar Sekretaris Komite Konvensi, Suaedy Marasabesy kepada wartawan di sela prakonvensi peserta di Wisma Kodel, Jakarta Selatan, Rabu (28/8/2013).
Semalam, Ketua dan anggota Komite Konvensi, Maftuh Basyuni dan Taufiqurahman Ruki mendatangi Kalla di kediamannya. Keduanya datang berbicara secara informal untuk meminta Kalla memenuhi undangan prakonvensi, namun tak membuahkan hasil.
"Pak JK belum bersedia untuk ikut. Alasannya karena beliau pernah menjadi Ketum Partai Golkar dan dalam konvensi ada aturan mengatakan kalau ada jabatan struktural dipartai harus nonaktif. Keputusannya kita hormati," tambah Suaedy.


JK Diyakini Takkan Tergiur Tawaran Konvensi Capres PD


Jakarta - Politisi senior Partai Golkar, Hajriyanto Thohari, tak yakin bahwa mantan Wapres sekaligus mantan Ketua Umum Golkar, Jusuf Kalla bersedia ikut konvensi calon presiden (capres) Partai Demokrat.
Keyakinannya itu didasarkan pada fakta bahwa Partai Demokrat (PD) mensyaratkan setiap peserta konvensi capres harus non-aktif dari partai yang diikutinya selama ini.
"Kalau di konvensi kan harus jadi kader Demokrat. Ketika ada persyaratan itu, saya yakin Pak JK tak akan mau melepas keanggotaannya di Golkar," kata Hajriyanto di Jakarta, Rabu (28/8).
Diketahui bahwa Komite Konvensi Capres PD sudah mendatangi kediaman JK di Jakarta Selatan untuk mengkonfirmasi kesiapannya untuk mengikuti konvensi.
Dia juga menekankan bahwa JK  mustahil akan pindah ke partai lain, setelah jalan panjangnya di Golkar yang penuh dinamika.
"Saya yakin beliau akan memilih sesuatu yang tidak perlu melepaskan keanggotaannya di Golkar," tegasnya.
Penulis: Markus Junianto Sihaloho/RIN

JK Diharapkan Tegas Tolak Proposal Konvensi Capres PD


Jakarta - Mantan Wapres, Jusuf Kalla, diharapkan mau secara tegas menolak undangan konvensi calon presiden (capres) Partai Demokrat (PD) yang sudah dilayangkan kepadanya.
Seperti disampaikan oleh anggota Fraksi Partai Golkar, Firman Subagyo, pihaknya menilai Jusuf Kalla adalah seorang mantan Ketua Umum Partai Golkar yang bijaksana mengambil keputusan.
"Harapan kami tidak terjadi Pak JK ikut konvensi," katanya di Jakarta, Rabu (28/8).
Walau demikian, Firman menyatakan, pihaknya tidak bisa terlalu ngotot mencegah JK mengikuti konvensi karena sebagai warga negara, JK juga memiliki hak untuk memilih dan dipilih.
"Yang pasti kita menghormati ketokohan Pak JK," tegasnya.
Seperti diberitakan, bahwa Komite Konvensi Capres PD sudah mendatangi kediaman JK di Jakarta Selatan untuk mengkonfirmasi kesiapannya untuk mengikuti konvensi.
Penulis: Markus Junianto Sihaloho/RIN


Tuesday, 27 August 2013

Golkar Berharap JK tak Ikut Konvensi Demokrat


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komite Konvensi Partai Demokrattelah mendatangi kediaman politisi senior Partai Golkar Jusuf Kalla.
Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), diundang untuk menjadi peserta konvensi calon presiden (capres) Partai Demokrat.
Menanggapi hal itu, Ketua DPP Golkar Firman Subagyo mengaku tidak rela bila Jusuf Kalla menerima tawaran tersebut, meskipun itu merupakan hak tiap warga negara untuk memilih dan dipilih. Ia pun mengharapkan JK bersikap bijaksana.
"Harapan kami tidak terjadi seperti itu. Politik ini kan dinamis, tidak serta merta hitam putih," kata Firman saat dikonfirmasi, Rabu (28/8/2013).
Ia menilai JK adalah tokoh nasional yang memiliki rekam jejak baik di masyarakat. Saat menjabat wapres, kinerja JK juga terukur.
"Saya yakin Pak JK akan bijaksana menentukan sikap pilihannya. Seperti Pak Endriartono, saat di NasDem dia mundur," ucap Firman.
Diberitakan sebelumnya, mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, belum memberikan jawaban terkait tawaran untuk mengikuti konvensi calon presiden Partai Demokrat dari Komite Konvensi.
"Belum, masih memertimbangkan banyak aspek, nantilah," ujar JK saat ditemui di kediamannya, usai menerima Komite Konvensi Capres Partai Demokrat, Selasa (27/8/2013).
Menurut mantan Ketua Umum Partai Golkar, banyak yang harus dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan untuk menerima atau menolak tawaran mengikuti proses konvensi.
"Kami memertimbangkan banyak aspek, aspek politis maupun aspek lainnya, jadi nantilah," cetusnya. (*)


Golkar Persilakan JK Ikut Konvensi Demokrat


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Golkar, Hajriyanto Y Thohari mengatakan, partainya akan menghormati semua pilihan politik yang akan diambil Muhammad Jusuf Kalla, terkait tawaran mengikuti Konvensi Capres Demokrat. Setelah djumpai Komite Konvensi Demokrat, Selasa (27/8/2013), Kalla menyatakan akan mempertimbangkan mengikuti konvensi.
Hajriyanto mengatakan, Kalla merupakan tokoh senior Golkar dan dikenal sebagai tokoh nasional karena pernah menjabat wakil presiden. Oleh karena itu, menurutnya, wajar bila ada tawaran dari partai lain untuk mengusungnya menjadi calon presiden.
"Golkar tak akan menghalangi Jusuf Kalla untuk maju mengikuti konvensi," kata Hajriyanto, saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (28/8/2013).
Akan tetapi, katanya, Golkar berharap Kalla tak tergiur tawaran mengikuti konvensi dan memperkuat pencalonan Aburizal Bakrie sebagai capres Golkar. Diberitakan sebelumnya, Jusuf Kalla mengaku mempertimbangkan untuk mengikuti Konvensi calon presiden Partai Demokrat. Sejumlah aspek tengah ia telaah dan keputusannya akan diberikan dalam waktu dekat.
Pada Selasa (27/8/2013), Ketua Komite Konvensi Demokrat Maftuh Basyuni dan Wakil Ketua Taufiqurrahman Ruki mendatangi rumah Jusuf Kalla. Kedatangan kedua orang tersebut untuk memastikan kesediaan Jusuf Kalla mengikuti jalannya konvensi. Kedatangan tersebut merupakan yang ketiga kali.
Sebelumnya, pada tanggal 16 dan 22 Agustus lalu, komite sudah pernah mendatangi kediaman Jusuf Kalla untuk menanyakan hal yang sama. Sementara itu, ketika ditanya apa saja yang dibahas pada pertemuan malam ini, Jusuf Kalla masih enggan membeberkannya.
"Kami berbincang kedepannya apa, kemungkinannya apa," kata Jusuf Kalla singkat sembari masuk ke dalam rumah.


JK Diundang Konvensi Capres, Golkar Tak Ikut Campur


Jakarta – Mantan Ketua Umum (ketum) Partai Golkar (PG), Jusuf Kalla diundang untuk mengikuti konvensi calon presiden (capres) Partai Demokrat (PD).
Menanggapi itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PG, Idrus Marham menyerahkan undangan konvensi itu kepada JK.
“Pak JK adalah tokoh. Sebagai mantan ketum (Golkar), Pak JK pasti tahu mana yang terbaik,” katanya di Jakarta, Selasa (27/8).
Idrus mengaku, PG tidak akan mengatur-atur ikut tidaknya JK dalam konvensi. “Kita percaya pada kader melakukan yang terbaik. Terserah Pak JK. Masa mereka sudah tokoh mau diatur,” imbuhnya.
Sebelumnya Wakil Ketua Komite Konvensi, Taufiequrachman Ruki membenarkan perihal undangan terhadap JK. “Beliau memang diusulkan dan sudah dihubungi. Namun belum memberikan jawaban,” katanya.
Suara Pembaruan
Penulis: C-6/RIN
Sumber:Suara Pembaruan

Pastikan Ikut Konvensi, Komite Datangi Rumah JK di Darmawangsa


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komite Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat direncanakan mendatangi kediaman Ketua PMI Jusuf Kalla di Jalan Darmawangsa Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (27/8/2013) malam ini.
Sekretaris Komite Konvensi, Suaedy Marasabesy membenarkan informasi bahwa pihaknya akan mendatangi rumah Jusuf Kalla. Mereka yang diutus untuk meminta kepastian Jusuf Kalla sebagai peserta capres adalah Maftuh Basyuni dan Taufiqurahman Ruki.
"Memang ke sana mau menanyakan kesediaan beliau untuk ikut. Golkar kan sudah serahkan kepada beliau. Yang ke sana Pak Maftuh dan Pak Ruki," ujar Suaedy kepada wartawan di Wisma Kodel, Jakarta, Selasa (27/8/2013).
Suaedy menambahkan, Komite Konvensi belum bisa memastikan apakah Jusuf Kalla mau ikut dalam Konvensi Capres atau tidak. Karenanya, Komite mengutus Maftuh dan Ruki untuk memastikan keikutsertaan Jusuf Kalla.
Ia juga tidak membantah, jika Jusuf Kalla adalah satu orang yang meminta waktu untuk direkonfirmasi kesediannya menjadi peserta sampai batas waktu 30 Agustus 2013. Sementara ini sudah 15 orang peserta yang diundang Komite untuk sesi prakonvensi.


Monday, 26 August 2013

JK Apresiasi PKS yang Galang Koalisi Partai Islam Usung Capres

Jakarta - PKS mengajak partai politik Islam bersatu dalam koalisi keumatan untuk mengusung satu nama capres di 2014. Langkah PKS itu diapresiasi Jusuf Kalla, tapi tentunya partai Islam harus mampu meraup 20 persen suara.

"Bagus toh? Kan memang aturannya kalau nanti tidak mencapai 20 persen suara di Pileg harus melakukan koalisi, berarti kan partai-partai Islam ini menyadari kalau suaranya kurang dari 20 persen, jadi mereka sudah mau gabung," ujar JK usai menandatangani MoU dengan PT Garuda Indonesia di Kantor Garuda Indonesia, Tangerang, Selasa (27/8/2013)

JK mengaku baru mendengar rencana PKS itu. Dia juga belum dikabari soal siapa nama yang akan diusung partai Islam untuk 2014.

"Belum, saya belum dikabari soal rencana PKS tersebut. Belum diajak juga," imbuhnya.

Namun demikian JK berharap rencana tersebut dapat memunculkan capres yang potensial. "Saya apresiasi itu," tutupnya.

Sumber : http://news.detik.com/read/2013/08/27/125859/2341743/10/jk-apresiasi-pks-yang-galang-koalisi-partai-islam-usung-capres

(bpn/ndr)

Sunday, 25 August 2013

Akbar: JK Ikut Konvensi Pengaruhi Suara Ical


TEMPO.COJakarta--Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golongan Karya Akbar Tanjung mempersilahkan rekannya politikus senior Jusuf Kalla untuk mengikuti konvensi Partai Demokrat untuk menjaring calon presiden. Meski begitu, Akbar menyadari, suara untuk calon presiden dari Golkar bakal berkurang bila Jusuf Kalla berhasil terpilih memenangkan konvensi Demokrat.

"Tapi bagaimana lagi itu hak beliau, kami (Golkar) tak bisa melarang," kata Akbar ketika ditemui seusai menghadiri pernikahan putri bungsu Jusuf Kalla, Ahad, 25 Agustus 2013. Sampai saat ini, Akbar belum mengetahui keputusan Jusuf Kalla.

Akbar menuturkan, bila Jusuf yang terpilih di konvensi, tak akan mempengaruhi perolehan suara legislatif Golkar. Namun itu akan berimbas pemilihan presiden. Capres Golkar, Aburizal Bakrie, bakal kehilangan konstituennya untuk Indonesia bagian timur.

Ketika ditanya kemungkinan pencapresan Aburizal dievaluasi, Akbar enggan menjawab. "Saat ini kami lebih berkonsentrasi pada pemilihan legislatif," ujar dia. Partai beringin ini menargetkan mendapatkan suara 30 persen agar bisa mengusung calon sendiri.

Komite Konvensi mengundang 15 nama dari 16 calon peserta konvensi yang diundang untuk pengenalan dan pendekatan lebih jauh pada tanggal 27-28 Agustus. Satu calon sebelumnya, Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal sudah datang pada Sabtu kemarin, 24 Agustus 2013.

Setelah perkenalan, Komite akan merampungkan nama-nama yang dinyatakan lolos seleksi pada 30 Agustus. Berdasarkan rekam jejak, komite yakin bila 16 calon tersebut lolos menjadi peserta.

Berdasarkan data yang Tempo peroleh, sesuai abjad, nama-nama yang akan diundang pada Selasa dan Rabu adalah: Ali Masykur Musa, anggota Badan Pemeriksa Keuangan; Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina; Dahlan Iskan, Menteri Badan Usaha Milik Negara; Endriartono Sutarto, mantan Panglima TNI; Gita Wiryawan, Menteri Perdagangan; Irman Gusman, Ketua Dewan Perwakilan Daerah; dan Isran Noor, Bupati Kutai Timur. 

Berikutnya ada nama Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden; Hayono Isman, anggota Dewan Perwakilan Rakyat; Mahfud Md., mantan Ketua Mahkamah Konstitusi; Marzuki Alie, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat; Pramono Edhie Wibowo, mantan KSAD; Rustriningsih, mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah; Rusdi Kirana, pengusaha; dan Sinyo Harry Sarundajang, Gubernur Sulawesi Utara.

SUNDARI


Friday, 23 August 2013

Komite Konvensi Demokrat Telah Temui Jusuf Kalla


JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua dan Wakil Ketua Komite Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat Maftuh Basyuni dan Taufiequrachman Ruki datang menemui mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla di kediamannya, di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan, Kamis (22/8/2013). Kepada Kalla, Maftuh dan Ruki menyampaikan informasi tentang konvensi.

Ketika ditanya mengenai kesediaan mengikuti konvensi, Kalla mengatakan belum memikirkannya karena belum mengetahui persyaratan. 

”Saya masih sibuk mempersiapkan pernikahan anak,” kata Kalla saat dihubungi, di Jakarta, Kamis.

Maftuh diikuti Ruki datang pukul 17.30 dan pergi pukul 18.20. Saat dikonfirmasi soal pertemuan, Maftuh berujar, ”Kami membicarakan pernikahan anaknya.”

Ketidakjelasan soal persyaratan peserta konvensi membuat Mahfud MD mempertimbangkan untuk ikut konvensi atau tidak. Mahfud, yang hendak maju dalam Pemilu Presiden 2014, membantah dirinya mundur dari konvensi. 

”Kan saya belum memutuskan apakah ikut atau tidak. Jadi, belum ada istilah mundur atau maju,” ujarnya di Gedung Mahkamah Konstitusi.

Mantan Ketua MK ini mendapat masukan dari tim politiknya yang menilai konvensi kurang berwibawa. Tim politiknya melihat, tidak ada harapan bagi konvensi menelurkan hasil yang berkualitas karena diduga sudah ada target tertentu.

”Semua perkembangan itu menjadi pertimbangan. Sebab, saya itu ingin memperbaiki negara, bukan ingin meraih kekuasaan. Kalau peluang memperbaiki negara itu harus diraih dengan cara yang tidak bagus, saya enggak mau juga. Kalau cuma sekadar rebut kekuasaan, silakan saja yang lain,” kata Mahfud.

Terkait kepesertaan dengan menyebut dan mengusulkan kader politik partai lain, Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDI-P TB Hasanuddin menilai, hal itu tidak etis. Seperti diberitakan sebelumnya, komite konvensi menyebut mengundang dua kader PDI-P, yaitu Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dan Wakil Gubernur Jawa Tengah Rustriningsih.

”PDI-P tidak terganggu dengan langkah komite konvensi. Bagi saya, tawaran itu juga menjadi ujian alamiah bagi PDI-P, untuk memastikan siapa yang kader dan siapa yang keder. Namun, langkah itu tidak etis serta memperlihatkan mereka seperti kebingungan dan tak punya harapan,” tutur Hasanuddin.

Jika ingin terhormat, kata Hasanuddin, komite sebaiknya menentukan dahulu kriteria peserta lalu mengumumkannya. Setelah itu, dibuka peluang bagi yang berminat lalu diseleksi sesuai kriteria.

Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso menilai, langkah sejumlah anggota komite konvensi yang sibuk mengundang dan menawar-nawarkan ke orang lain untuk ikut membuat konvensi terancam kehilangan daya tarik dan wibawanya.

16 peserta ideal

Juru bicara komite, Rully Charis, mengatakan, idealnya, jumlah peserta maksimum 15 atau 16 orang agar jalannya konvensi lebih efektif dan efisien. Tim masih memverifikasi kesediaan dan kesiapan bakal calon peserta secara keseluruhan. Ada 26 nama yang diverifikasi. Setelah proses ini selesai, komite akan mendiskusikan kelayakannya berdasarkan rekam jejak, kepemimpinan, kapabilitas, karakter, atau faktor kekhususan lainnya.

Pengajar politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Iberamsjah, mengatakan, konvensi Partai Demokrat rentan menjadi alat pencitraan di tengah citra negatifnya karena berbagai kasus korupsi. Para politisi dan publik hendaknya mencermati proses politik itu secara kritis.

Saat kuliah umum di program Lemhannas, kemarin, Wakil Presiden Boediono mengingatkan pentingnya memilih pemimpin yang mampu mengawal konsolidasi demokrasi Indonesia. (K12/ANA/OSA/ATO/IAM/NWO)
Sumber : KOMPAS CETAK
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

Thursday, 22 August 2013

JK Ikut Konvensi Demokrat, Golkar Akan Kehilangan...


JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso mengakui partainya akan kehilangan Jusuf Kalla jika mantan Wakil Presiden RI itu memutuskan ikut dalam konvensi calon presiden Partai Demokrat. JK, lanjutnya, masih menjadi tokoh penting di Golkar. 

"Senior dan tokoh dihormati. Kalau JK ikut konvensi Demokrat, terus terang merasa kehilangan karena beliau kami butuhkan di Golkar untuk bersama-sama meningkatkan pemenangan pemilu legislatif dan pilpres," ujar Priyo di Kompleks Parlemen, Kamis (22/8/2013).

Namun, Priyo menyadari JK adalah tokoh nasional yang tidak boleh dibatasi oleh Partai Golkar. Manakala JK ikut konvensi, lanjut Priyo, maka Golkar tak boleh melarangnya.

"Nyatanya dia tokoh nasional yang kaliber," imbuh Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) ini.

Kepastian bahwa JK diundang mengikuti konvensi disampaikan Wakil Ketua Komite Konvensi, Taufiequrachman Ruki.

"Beliau memang diusulkan dan sudah dihubungi. Namun, belum memberikan jawaban," ujar Taufiequrachman Ruki.

Rencananya, mulai pekan depan, komite konvensi akan mulai melakukan pendalaman visi dan misi semua kandidat. Pada 31 Agustus 2013, komite kemudian menyerahkan nama final peserta konvensi Partai Demokrat.

Lalu, pada 15 September 2013, komite membuat deklarasi yang dihadiri Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono beserta semua peserta konvensi.

Editor : Hindra Liauw

JK Ikut Konvensi Capres Demokrat, Priyo Merasa Kehilangan


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua DPR RI dari Partai Golkar Priyo Budi Santoso menghormati jika mantan Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla (JK) ikut konvensi Capres dari Partai Demokrat.
"Beliau (JK), senior Golkar dan tokoh dihormati. Secara personal kalau JK ikut konvensi Partai Demokrat terus terang kami merasa kehilangan karena beliau kami butuhkan di Golkar untuk bersama-sama meningkatkan pemenangan Pemilu legislatif dan Pilpres," kata Priyo di gedung DPR RI Jakarta, Kamis (22/8/2013).
Tetapi karena JK, menurut Priyo, adalah tokoh nasional yang tidak boleh secara ekuistik diklaim hanya milik Golkar maka manakala  JK memutuskan untuk ikut Konvensi karena diundang maka tidak boleh dilarang.
"Nyatanya dia (JK) tokoh nasional yang kaliber. Saya tidak bisa menutup kami sebenarnya merasa kehilangan," kata Priyo.
Menurut Priyo tidak perlu ada sanksi kepada JK seandainya berminta ikut konvensi Capres Demokrat.
"Di NasDem kemarin pak Endiartono dinon aktifkan (karena ikut konvensi). Asiapapun atau Pak JK tidak perlu memberikan sanksi atau apa. Biarkan saja . Beliau kan tokoh," kata Priyo.
Kendati demikian. JK dikabarkan menolak ikut konvensi Capres yang diadakan Partai Demokrat.
Informasi yang dihimpun Tribunnews.com, Kamis (22/8/2013), menyebut JK telah dihubungi oleh petinggi Partai Demokrat untuk ikut konvensi namun JK menolak.
Meskipun JK belum menyampaikan penolakannya itu kepada Komite Konvensi Capres Demokrat.
Selain JK, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi dan Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani juga sebelumnya dikabarkan menolak ikut konvensi.


JK Dikabarkan Menolak Ikut Konvensi Capres Demokrat


Tribunnews.com, Jakarta - Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) dikabarkan menolak ikut konvensi Capres yang diadakan Partai Demokrat.
Informasi yang dihimpun Tribunnews.com, Kamis (22/8/2013), menyebut JK telah dihubungi oleh petinggi Partai Demokrat untuk ikut konvensi namun JK menolak.
Meskipun JK belum menyampaikan penolakannya itu kepada Komite Konvensi Capres Demokrat.
Selain JK, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi dan Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani juga sebelumnya dikabarkan menolak ikut konvensi.
Sebelumnya, Anggota Komite Konvensi Capres Demokrat Vera Febyanthy menyebut dalam pekan ini para kandidat Capres peserta konvensi akan dikirimkan undangan sebagai bukti ikut konvensi.
Kemudian 31 Agustus nanti nama-nama Capres peserta Konvensi akan diumumkan ke publik dan 15 September launching sekaligus perkenalan ke publik nama-nama peserta Konvensi Capres.
Kemarin, Wakil Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Marzuki Alie mulai mengkhawatirkan kinerja Komite Konvensi Capres Demokrat.
Kata Marzuki Alie, belum apa-apa alias belum punya kriteria yang jelas namun Komite mulai obral sana-sini nama-nama Capres peserta konvensi.
"Ini gawat (Komite) bisa jadi tempat dagang (politik). Bagaimana kalau nanti (Komite) dilobi sekian orang dan jadi orang itu," kata peserta Konvensi Capres Demokrat ini.
Dia menegaskan persoalan Capres adalah bicara soal negara Republik Indonesia, soal pemimpin Indonesia, bukan yang lain. 
"Marzuki Alie boleh tidak jadi apa-apa asal negara ini baik," kata Marzuki.
Dia mengkritik ada Anggota Komite yang rajin obral sana-sini nama-nama Capres peserta Konvensi ke publik meskipun tidak memiliki kriteria yang jelas. "Saya tidak pernah bicara soal ini tapi melihat respon publik kami khawatir (Komite) ini bisa terdegradasi oleh publik, nanti dikira ini seperti Konvensi ecek-ecek,' kata Marzuki.
Marzuki yang juga peserta Konvensi Capres Demokrat ini lalu berpikir  ulang untuk ikut Konvensi Capres Demokrat menyusul belum adanya kriteria yang jelas dari Komite Konvensi Capres soal sosok Capres yang diinginkan.
"Akan saya pertimbangkan (ikut konvensi) kalau begini kondisinya. Pertimbangkan kembali keikutsertaan saya ikut konvensi," kata Marzuki.
Marzuki menyayangkan ada pernyataan anggota Komite ke publik yang membuat nilai konvensi Capres jadi terdegradasi.
"Banyak pandangan publik jadi sinis ke Konvensi ini karena pernyataan-pernyataan itu. Saya merespon harapan publik bukan artinya hantam Komite. Respon publik yang nadanya negatif seperti kenapa misalnya sudah diusulkan nama-nama Si A, Si B, dan seterusnya," kata Marzuki.
Padahal, kata Ketua DPR RI ini, belum ada kriteria jelas yang diberikan Komite Konvensi seperti apa sosok Capres yang diinginkan. Menurut Marzuki, Komite Konvensi sepakati dulu kriteria yang digunakan sebagai syarat untuk memilih Capres yang akan ikut konvensi.
"Jangan langsung asal usul si A, si B, dan sebagainya tanpa kriteria yang jelas," ujar Marzuki.
Kriteria yang dimaksud Marzuki misalnya kriteria umum dan kriteria khusus yang lebih spesifik untuk kandidat Capres yang diajukan. Kriteria umum itu misalnya standar UU yang mau diperbaiki di bidang pendidikan seperti apa. Sementara untuk kriteria khusus misalnya untuk menjawab persoalan bangsa saat ini.
(aco)