Showing posts with label Jokowi. Show all posts
Showing posts with label Jokowi. Show all posts

Friday, 30 August 2013

Adu Populer Capres di Twitter, Jokowi Memimpin

TEMPO.COJakarta - Pemilihan Presiden 2014 sudah di depan mata. Sejumlah tokoh sudah memastikan mencalonkan diri melalui partainya. Ada juga yang mendaftar ikut konvensi, memperebutkan tiket untuk dicalonkan dari partai penyelenggara konvensi.
Meski belum resmi terdaftar sebagai calon presiden di Komisi Pemilihan Umum, sejumlah tokoh sudah mulai menjaring dukungan, membentuk tim sukses dan menebar pesona. Salah satu metode yang ampuh adalah menggalang dukungan di media sosial adalag Twitter.
Kalau dilihat dari jumlah followers-nya, rata-rata para tokoh yang disebut-sebut bakal menjadi calon presiden punya ratusan ribu pengikut.
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang dikabarkan tengah dipertimbangkan untuk jadi calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ada di puncak klasemen dengan lebih dari 700 ribu followers. Disusul Dahlan Iskan, Menteri BUMN, yang sudah pasti jadi peserta konvensi calon presiden Partai Demokrat. Dahlan punya lebih dari 500 ribu pengikut. Di urutan ketiga, ada calon presiden Partai Gerindra, Letjen (Purn) Prabowo Subianto, dengan 350 ribu pengikut.
Berikut ini daftar Twitter para capres dan jumlah pengikutnya:
(Akun Twitter: @jokowi_do2) dengan  707 ribu followers.
(Akun Twitter: @iskan_dahlan) dengan 588 ribu followers.
(Akun Twitter: @Prabowo08) dengan 336 ribu followers.
(Akun Twitter: @aniesbaswedan) dengan 280 ribu followers.
(Akun Twitter: @hattarajasa) dengan  279 ribu followers.
(Akun Twitter: @mohmahfudmd) dengan 250 ribu followers.
(Akun Twitter: @aburizalbakrie) dengan 217 ribu followers.
(Akun Twitter: @GWirjawan) dengan 41 ribu followers.
(Akun Twitter @wiranto1947) dengan 19 ribu followers.  
TWITTER | WD

PDIP Tidak Akan Lawan Keinginan Rakyat Terkait Jokowi


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Popularitas dan elektabilitas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sebagai salah satu kandidat Calon Presiden dalam Pilpres 2014 mendatang terus meningkat. Terkait hal tersebut Pakar Psikologi Politik UI Hamdi Mulukmemperkirakan PDI Perjuangan tidak akan melawan keinginan masyarakat dalam konteks calon presiden yang akan diusung partai berlambang banteng tersebut.
"Kayaknya tidak mungkin PDIP melawan kehendak publik. Kecil kemungkinannya," ujar Hamdi di Jakarta, Jumat (30/8/2013).
Menurut Hamdi, jika PDIP sampai mengambil kebijakan yang bertentangan dengan keinginan masyarakat akan terjadi politik alienation yang justru berpotensi menimbulkan kemarahan warga dan justru merugikan PDIP.
"Itu bahaya karena jika keinginan elit dengan rakyat terlalu jauh, maka massa akan marah. Nah kalau yang marah 40 persen, kalau kata survei, yang memilih Jokowi, apa gak kualat PDIP," tuturnya.
Namun Hamdi yakin PDIP hanya tengah mencari momen yang tepat untuk memutuskan secara resmi mencalonkan Jokowi sebagai Capres mereka.
"Saya agak yakin (PDIP akan calonkan Jokowi), dan bodoh sekali jika PDIP sudah melihat tingkat prevelensi begitu tinggi tapi justru memasang orang lain. Gak mungkinlah," tukasnya.
Ia menyebut ada beberapa hal yang mungkin menjadi pertimbangan partai yang menyatakan dirinya sebagai partai wong cilik itu untuk menunda pengumuman pencapresan Jokowi.
"Pertimbangan pertama tentu etika politik, tapi seperti saya katakan kita sebenarnya bisa melihat kualitas seseorang dari kinerjanya selama waktu tertentu, jadi tidak perlu Jokowi membuktikan selama 5 tahun," jelasnya.
Apalagi, lanjutnya, Jokowi juga bisa melakukan hal yang ia terapkan saat menjadi Gubernur DKI Jakarta. Saat itu Jokowi meminta maaf dan izin dari masyarakat Solo untuk menunaikan tugas yang lebih besar di Jakarta.
Hamdi melanjutkan, alasan kedua kemungkinan adalah PDIP masih menunggu kepastian perolehan suaranya untuk pemilu legislatif. Karena jika mereka dapat meraih perolehan suara lebih dari 20 persen maka akan lebih mudah bagi PDIP untuk menentukan calon presiden.
Alasan ketiga adalah untuk melindungi Jokowi dari serangan dan fitnah-fitnah politik yang potensial muncul jika Jokowi resmi diusung sebagai Capres.
"Jadi jangan sampai nanti Jokowi jadi target serangan politik," katanya.


Thursday, 29 August 2013

Mengapa Jokowi Capres yang Paling Diinginkan?


KOMPAS.com - Eman Sulaeman Nasim, pengajar FISIP Universitas Indonesia dan Direktur IndonesiaChannel, berbagi pendapat seputar melesatnya popularitas Jokowi.

Mencuatnya nama Joko Widodo atau Jokowi, yang baru sekitar satu tahun menjadi gubernur ibu kota negara Republik Indonesia, Jakarta, adalah sebuah bukti, masyarakat saat ini membutuhkan figur pemimpin yang benar-benar mau bekerja, dan melayani rakyat serta bangsa dan negara. Bukan pemimpin yang hanya pandai bicara di depan televisi, mengaku paling peduli rakyat, mengaku pahlawan dan penyelamat bangsa, tetapi kenyataannya no action talk only.

Bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang mau bekerja melayani rakyat, bukan minta dilayani. Saat ini bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang mau mendengar apa keluh kesah dan problema rakyatnya setelah itu bekerja keras menyelesaikan problema rakyatnya.

Saat ini bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang tegas, tetapi manusiawi. Sebelum menegakkan peraturan, rakyat diberikan pengertian dan penyadaran. Jika bisa memperbaiki diri, diberi kesempatan. Pemerintah membantu memberikan solusi dari persoalan tersebut.

Apa yang dilakukan Jokowi selama satu tahun ini sudah hampir sesuai dengan harapan rakyat akan sosok pemimpin yang dirindukan. Jokowi melakukan kegiatan komunikasi yang sangat baik. Ia berusaha mendapatkan informasi langsung dari sumbernya, mengecek kondisi lapangan dan kondisi rakyat yang dipimpinnya tanpa rekayasa. Mendengarkan dan menyimak keluh kesah beserta problema mereka. Satu per satu permasalahan diurai, diselesaikan. Program prorakyat dilanjutkan. Jika ada kelompok masyarakat yang menghalangi programnya dan mengganggu masyarakat lainnya, Jokowi menjelaskan program kerjanya sehingga rakyat tahu tujuannya. Rencana anggaran dibuat transparan.

Pada dasarnya, rakyat akan mendukung program kerja untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk kepentingan keluarga ataupun kerabat penguasa.

Apa yang dilakukan oleh Jokowi dirasakan manfaatnya untuk rakyat. Seperti penertiban Waduk Pluit, penertiban Pasar Tanah Abang, pembangunan Kampung Deret, pembangunan rumah susun, dan beberapa program lainnya.

Hal lainnya, masyarakat senang melihat dan menyaksikan pemimpin yang tidak berambisi. Masyarakat suka kepada pemimpin yang loyal serta setia. Meski berbagai survei politik menunjukkan Jokowi paling didukung rakyat Indonesia menjadi presiden, toh Jokowi berbeda dengan yang lainnya. Jokowi tidak menunjukkan ambisinya ingin menjadi presiden. Dia justru mempersilakan masyarakat bertanya kepada ketua umum partai politiknya, Ibu Megawati. Sikap Jokowi seperti ini semakin menambah rasa simpati.

Hal lainnya yang disukai masyarakat, Jokowi pandai mengolah EQ (emotional quotient). Jokowi pandai mengendalikan emosi dan memberikan jawaban menyejukkan. Seorang pemimpin juga tidak baik terlalu memperlihatkan sikap mellow. Berpura-pura menangis melihat penderitaan rakyat.

Hal yang tidak kalah pentingnya, sikap Jokowi menghormati profesi wartawan menjadikan sepak terjang Jokowi terus diekspos wartawan. Apa yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta diketahui oleh hampir seluruh rakyat Indonesia. Gaungnya bergema hingga ke mancanegara. Ini semua membuat rakyat Indonesia menjadi semakin simpati kepada Jokowi.

Itulah sebagian alasan mengapa sekarang hampir sebagian besar rakyat Indonesia berharap Jokowi kelak bisa memimpin negeri ini.

Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2013/08/30/0938327/Mengapa.Jokowi.Capres.yang.Paling.Diinginkan.
Eman Sulaeman Nasim, Pengajar FISIP UI, Direktur IndonesiaChannel, Tinggal di DKI Jakarta
Sumber : KOMPAS SIANG
Editor : Caroline Damanik

Siapa Pesaing Kuat Jokowi di Pemilihan Presiden 2014?


TRIBUNNEWS.COM - Pesaing Jokowi yang elektabilitasnya tak terbantahkan lagi, bisa muncul dari Konvesi Partai Demokrat. Terlepas dari hasil survey beberapa bulan terakhir yang mencatat anjloknya elektabilitas Demokrat, namun de facto Demokrat adalah partai berkuasa, yang pada pemilu 2009  meraih hampir 22 juta suara (20,85 persen ).
“Konvensi Demokrat yang sedang berjalan harus dinilai sebagai upaya demokratik memenangi pemilu dan pilpres 2014, yang hasilnya tidak dapat diabaikan apalagi dipandang sebelah mata oleh parpol-parpol peserta pemilu,” ujar Mulyana W Kusumah, pengamat politik dari Universitas Indonesia, di Jakarta Kamis (29/8/2013) sore, seperti rilis yang diterima redaksi Tribunnews.com.
 Para peserta konvensi adalah figur yang tidak dapat dipungkiri ketokohannya secara nasional. Rekam jejak mereka pun diakui. Untuk menyebut beberapa contoh, misalnya  Jenderal Purn TNI Pramono Edhie Wibowo jelas memiliki reputasi karir dan berbasis dukungan politik Cikeas.
Kemudian, ada Dahlan Iskan , menteri dengan reputasi dan kinerja yang diakui, Gita Wiryawan memiliki visi pembangunan ekonomi yang kuat, Irman Gusman Ketua DPD yang keanggotaan mendapat legitimasi kuat, Anis Baswedan, intelektual muda sangat prospektif.


Akbar Tandjung: Jusuf Kalla dan Jokowi Pasangan Ideal


TRIBUNNEWS.COM - Politisi senior Partain Golkar, Akbar Tandjung, mendukung kesiapan mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK) berduet dengan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo pada Pemilu Presiden 2014. Akbar Tandjung mengaku telah lama mendengar cerita kedekatan JK dengan Jokowi.
"Jusuf Kalla siap, bahkan dia menyatakan hubungan saya (JK) dengan Jokowi sudah lama," kata Akbar Tandjung di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (29/8/2013). Menurut Akbar, pasangan tersebut sangat bagus dan berpeluang di Pemilu 2014. "Karena dia bagus, pasangan Jawa dan non Jawa," kata Akbar.
Lalu apakah Akbar mendukung pasangan tersebut? "Terserah Pak JK," katanya.
Sebelumnya Jusuf Kalla telah menyatakannya kesiapannya maju dalam pemilihan presiden dan wakil presiden tahun 2014, bersama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi.
"Bagi saya, hanya satu, selama itu bisa bermanfaat bagi rakyat dan negara, saya siap melaksanakannya jika bersama Pak Jokowi (Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta)," kata Jusuf Kalla, Selasa (27/8/2013) siang.
Menurut Jusuf Kalla, Jokowi termasuk sosok yang didorongnya saat akan menjadi calon gubernur DKI Jakarta tahun lalu. Jokowi, menurut Jusuf Kalla, adalah sosok yang memiliki kepribadian yang baik, memiliki kemampuan, bisa mengambil keputusan, dan mampu memenuhi aspirasi rakyat. "Lebih penting lagi, jika saya bersama Jokowi, ada yang bilang, itu sebuah harmoni, antara perwakilan Jawa dan luar Jawa," tambahnya.
Namun Kalla menyatakan, semuanya itu kembali lagi pada sikap Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan DPP PDI-P serta rakyat sendiri.

PDIP Pertimbangkan Jokowi Berduet dengan JK


Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PDI Perjuangan menerima wacana duet Jusuf Kalla- Joko Widodo pada Pemilu 2014. Hal itu terungkap setelah JK panggilan akrab Jusuf Kalla menyatakan kesiapannya berduet dengan Jokowi.
"Wacana itu semuanya kita tampung dan jadi masukan yang kita pertimbangan," kata Ketua DPP PDIP Puan Maharani di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (29/8/2013).
Namun, Puan mempertanyakan apakah JK mau bergabung ke PDI Perjuangan. Sementara, JK masih tercatat sebagai politisi Golkar.
"Apakah benar pak JK mau ikut bersama PDIP. Kan Golkar sudah punya jadi capres. Kalau Pak JK ikut ke PDIP mewakili siapa Golkar atau secara pribadi," tuturnya.
Mengenai hasil survei pasangan tersebut yang menguat, Puan menilai hal itu wajar. Apalagi dinamika politik terus berkembang.
"Kita tidak tahu menjelang pileg mendatang. Masih ada tiga bulan sampai pileg apakah kita akan pileg atau kemudian nggak. Ini komunikasi intensi," ujarnya.
Sebelumnya, Wakil Presiden periode 2004-2009 Jusuf Kallamenegaskan, siap maju dalam pemilihan presiden dan wakil presiden tahun 2014, bersama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi.
"Bagi saya, hanya satu, selama itu bisa bermanfaat bagi rakyat dan negara, saya siap melaksanakannya jika bersama Pak Jokowi (Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta)," kata Jusuf Kalla, Selasa (27/8/2013) siang.
Menurut Jusuf Kalla, Jokowi termasuk sosok yang didorongnya saat akan menjadi calon gubernur DKI Jakarta tahun lalu.
Jokowi, menurut Jusuf Kalla, adalah sosok yang memiliki kepribadian yang baik, memiliki kemampuan, bisa mengambil keputusan, dan mampu memenuhi aspirasi rakyat.
"Lebih penting lagi, jika saya bersama Jokowi, ada yang bilang, itu sebuah harmoni, antara perwakilan Jawa dan luar Jawa," tambahnya.
Namun, Kalla menyatakan, semuanya itu kembali lagi pada sikap Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan DPP PDI-P serta rakyat sendiri.


8 dari 10 Analis Jagokan Jokowi Jadi Presiden


TEMPO.COJakarta - Sejumlah pengamat dan analis politik memprediksi Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi akan muncul sebagai calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Bahkan, dalam survei lewat telepon yang digelar Tempo selama tiga hari sejak Senin hingga Rabu, 28 Agustus 2013, delapan dari 10 analis politik menjagokan mantan Wali Kota Solo, Jawa Tengah, itu memenangkan kursi R1 dalam Pemilihan Umum 2014.

Direktur Riset Charta Politica Indonesia Yunarto Wijaya, satu dari 10 analis yang ikut disurvei, mengatakan Jokowi memiliki kans terbesar menduduki kursi Presiden. Keyakinannya itu mengacu pada rilis sejumlah lembaga survei nasional yang kerap kali menempatkan Jokowi sebagai tokoh yang paling tinggi elektabilitasnya. "Kalau tidak ada perubahan yang cukup besar, Jokowi tidak terbendung," kata Yunarto Wijaya.

Dalam hasil survei Opinion Makers dan Pakar yang dirilis lembaga survei Pol-Tracking Institute Agustus lalu, gubernur terpilih DKI Jakarta, Joko Widodo atau Jokowi, menempati peringkat pertama. Ia menggungguli 34 nama lain, seperti Anies Baswedan dan Sri Mulyani Indrawati. Demikian pula dalam Survei Nasional Partisipasi Politik dan Perilaku Memilih Pra-Pemilu 2014 yang digelar Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), akhir Juni lalu. Jokowi mengalahkan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Tak semua analis politik sepakat Jokowi bakal menduduki kursi presiden. Misalnya saja, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia Arbi Sanit. Menurut Arbi, rilis beberapa lembaga survei yang menempatkan Jokowi sebagai tokoh tertinggi elektabilitasnya belum mengatakan apa pun. "Survei sekarang banyak biasnya," katanya. Arbi menegaskan, Jokowi bakal tak terbendung di Pilpres 2014 kalau kalangan menengah ke atas ikut mendukungnya. Selama ini Jokowi hanya didukung oleh kalangan menengah ke bawah. Demikian juga dengan Kacung Marijan, guru besar Ilmu Politik Universitas Airlangga, yang ragu Jokowi bakal maju dalam pilpres. "Masih tanda tanya apakah Megawati bersedia melepaskan jatahnya sebagai calon presiden dari PDI Perjuangan."

Ketua Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan Puan Maharani meminta publik untuk tidak selalu mengaitkan Jokowi dengan pencalonan presiden. Ia menegaskan, partainya memiliki banyak tokoh potensial di samping Jokowi. Kader lain yang disebut Puan, antara lain Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur Kalimantan Timur Teras Narang, dan Gubernur Kalimantan Barat Cornelius Lay. "Masih banyak juga bupati dan wali kota lain," katanya.

Menurut Puan, hingga kini PDI Perjuangan belum menentukan calon presiden yang akan diusung oleh partai berlambang banteng itu. Yang akan menentukan tokohnya, menurut Puan, adalah Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. Puan pun juga enggan menanggapi kabar yang menyebutkan Megawati menolak maju menjadi calon presiden pada pemilu mendatang. "Saya tidak tahu, mungkin Anda lebih tahu."


Wednesday, 28 August 2013

Hary Tanoe Komentari Popularitas Jokowi


Kabar24.com, JAKARTA- Calon wakil presiden dari Partai Hati Nurani Rakyat atau Hanura, Hary Tanoesoedibjo, memberi tanggapan atas popularitas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang meroket.

Menurutnya, dalam pemilu seseorang tidak bisa membuktikan, hanya menjanjikan. Namun, pembuktian juga bisa dilakukan kalau sudah terpilih.

"Ya bagus, tapi pemilu ini kan masih lama, jadi bahaya juga kalau memperkirakan soal kecepatan," ujarnya ketika ditanya mengenai kepopuleran Jokowi.

Jokowi adalah tokoh yang selalu unggul dalam survei pencalonan presiden yang dilakukan oleh berbagai lembaga.

Namanya selalu unggul dari kandidat-kandidat lainnya yang mencalonkan diri sebagai Presiden dan Wakil Presiden pada Pemilu 2014.

Sebagai seorang politisi sekaligus pengusaha, Hary memiliki strategi khusus jika dirinya terpilih sebagai Wakil Presiden 2014 mendatang, terutama memajukan perekonomian Indonesia dengan meningkatkan pendapatan.

Dia menegaskan pendapatan yang besar ini nantinya akan dapat dimanfaatkan untuk melakukan perbaikan-perbaikan seperti infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan fasilitas umum lainnya.

"Wah, kita benahi ini dan benahi itu tetapi jika anggarannya tidak mendukung maka perbaikan akan sulit dilakukan," terangnya.

Jadi yang paling penting, tegasnya, tingkatkan dulu perekonomian kita dengan menciptakan kebijakan-kebijakan yang kondusif.

Harry Tanoesoedibjo merupakan CEO MNC Group sekaligus Calon Wakil Presiden yang akan mendampingi Wiranto yaitu Calon Presiden dari Partai Hanura pada Pilpres 2014 mendatang.(JIBI/bisnis.com)

Editor: Marissa Saraswati

Sumber: http://www.kabar24.com/nasional/read/20130829/61/199264/hary-tanoe-komentari-popularitas-jokowi-#sthash.kuG9n1Ql.dpuf

PAN Kemungkinan Gandeng Jokowi


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Jelang Pilpres 2014, semua partai politik (parpol) semakin intens melakukan hitung-hitungan politik.
Termasuk, Partai Amanat Nasional (PAN), yang tak menutup kemungkinan untuk menduetkan calonnya dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) yang tingkat elektabilitasnya terus meroket.
Ketua DPP PAN Bara Hasibuan mengakui, sosok Jokowi adalah fenomena yang luar biasa dalam kancah perpolitikan di Indonesia. Menurutnya, rakyat memang butuh figur baru seperti Jokowi, yang tak terikat pada protokoler saat menjalankan tugasnya.
"Kami akui, Jokowi sesuatu yang luar biasa. Rakyat Indonesia inginkan figur baru, spontanitas, tak terpaku pada protokoler. Ini mengubah konstelasi politik," kata Bara saat ditemui di Kantor DPP PAN, Rabu (28/8/2013).
Menurutnya, meski PAN sudah memutuskan mengusung Hatta Rajasasebagai calon presiden (capres), namun hal tersebut bisa saja berubah, tergantung hasil pemilu legislatif dan dinamika politik.
"Walaupun PAN sudah putuskan pada rakernas 2011, Hatta Rajasasebagai capres, namun segala kemungkinan bisa terjadi setelah pemilu legislatif, termasuk berpasangan dengan Jokowi," tuturnya. (*)


Hary Tanoe Tak Gentar dengan Popularitas Jokowi dan Prabowo


JAKARTA, KOMPAS.com — Calon wakil presiden dari Partai Hanura Hary Tanoesoedibjo mengaku tak gentar menghadapi popularitas kader PDI Perjuangan Joko Widodo dan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto dalam pertarungan di pemilihan umum presiden tahun depan. Hary Tanoe yakin sinerginya dengan Wiranto mampu menyaingi popularitas kedua tokoh tersebut.

Hary Tanoe menjelaskan, rasa tidak takut dikalahkan oleh Joko Widodo (Jokowi) atau Prabowo terjadi karena dirinya tidak berambisi menjadi orang nomor dua di Indonesia. Ia menegaskan, keputusannya menjadi cawapres mendampingi Wiranto karena menjawab permintaan dari Partai Hanura.

"Tidak ada masalah, saya kan tidak ambisius. Saya jadi cawapres karena diminta dan saya melihat sinergi saya dengan Pak Wiranto ini dapat menyelesaikan semua masalah Indonesia. Tapi kalau masyarakat melihatnya lain, saya juga tak akan masalah," kata Hary Tanoe seusai menjadi pembicara dalam sebuah diskusi politik di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (28/8/2013). 

Lebih jauh, Hary Tanoe menegaskan, keputusannya menerima tawaran Hanura untuk maju mendampingi Wiranto dilandasi perhitungan yang panjang. Ia mengklaim mampu menjadi pasangan yang saling melengkapi saat berjuang bersama Wiranto. Wiranto, kata Hary Tanoe, merupakan tokoh nasional yang memiliki pengalaman di bidang militer dan politik. Sementara itu, dirinya yang memiliki latar belakang pengusaha fokus pada masalah ekonomi dan bisnis. 

Dari sisi konstituen, Hary Tanoe juga menganggap dirinya dan Wiranto mampu mewakili semua kelompok pemilih. Sebagai tokoh senior, Wiranto dianggapnya mampu mewakili kelompok pemilih tua, dan dirinya mewakili kelompok pemilih muda. 

"Dengan pertimbangan itu, kita berpikir untuk menjadi satu, mewakili kelompok dan kapasitas sesuai dengan bidangnya masing-masing. Tapi harus digarisbawahi, saya tak ambisius," ujarnya. 
KOMPAS IMAGES/VITALIS YOGI TRISNAGubernur DKI Jakarta, Joko Widodo menghadiri acara Rakernis Fungsi Lalu Lintas 2013 di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (19/3/2013). Rapat ini membahas cara untuk memberikan keamanan dan kelancaran lalu lintas menjelang Pemilu tahun 2014.

Hasil survei Litbang Kompas menunjukkan popularitas Jokowi dibandingkan dengan sosok lainnya mengindikasikan kian menguatnya tuntutan masyarakat terhadap kehadiran generasi kepemimpinan politik nasional baru yang tidak bersifat artifisial. Kesimpulan demikian tampak dari dua hasil survei opini publik yang dilakukan secara berkala (longitudinal survey) terhadap 1.400 responden—calon pemilih dalam Pemilu 2014—yang terpilih secara acak di 33 provinsi. Survei terbaru yang dilakukan Kompasmenunjukkan tingkat keterpilihan Jokowi mencapai 32,5 persen. Proporsi itu meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan dengan tingkat keterpilihannya pada Desember 2012. 

Hasil survei menunjukkan, semakin besar proporsi calon pemilih yang jelas menyatakan pilihannya terhadap sosok pemimpin nasional yang mereka kehendaki. Sebaliknya, semakin kecil proporsi calon pemilih yang belum menyatakan pilihan dan semakin kecil pula proporsi calon pemilih yang enggan menjawab (menganggap rahasia) siapa sosok calon presiden yang ia harapkan memimpin negeri ini. 

Besarnya proporsi pemilih yang sudah memiliki preferensi terhadap sosok calon presiden secara signifikan hanya bertumpu pada lima nama: Joko Widodo, Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie, Megawati Soekarnoputri, dan Jusuf Kalla. Pada survei terakhir (Juni 2013), lima sosok itu mampu menguasai dua pertiga responden. Sisanya (18,2 persen) tersebar pada 16 sosok calon presiden lainnya.

Editor : Caroline Damanik


Jokowi Bagian Strategi Politik PDIP di Pemilu 2014


TEMPO.COJakarta - Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Hasto Kristianto, mengatakan strategi partai untuk memenangi Pemilihan Umum 2014 adalah menggunakan momentum, baik positif maupun negatif. Contoh momentum positif, kata Hasto, adalah peran Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo.

"Jokowi menjadi bagian dari momentum politik yang positif," kata Hasto ketika dihubungi, Rabu, 28 Agustus 2013. Sedangkan momentum negatif, misalnya, kegagalan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono menjaga kestabilan ekonomi, rupiah melemah, dan utang yang semakin menumpuk. (Baca: Jokowi Capres PDIP? `Itu Sensitif`) 

Hasto menilai Jokowi adalah salah satu faktor meningkatnya elektabilitas PDI Perjuangan akhir-akhir ini. Namun, kata dia, meningkatnya elektabilitas partai tak hanya karena Jokowi, tetapi juga faktor kinerja pengurus, baik yang di pusat maupun daerah.

Meski Jokowi mempunyai elektabilitas tinggi, kata Hasto, tak serta-merta membuat Gubernur Jakarta ini menjadi calon presiden yang bakal diusung. Penentuan posisi capres dan cawapres di PDIP ada di tangan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. 

Saat ini, kata Hasto, partai lebih berkonsentrasi pada pemenangan pemilihan legislatif agar bisa mengusung capres dan cawapres dari kader internal. Hasto optimistis bahwa dalam Pemilu 2014 nanti PDI Perjuangan akan meraih suara hingga 20 persen.

SUNDARI 


Tuesday, 27 August 2013

Muncul Gerakan Memaksa Jokowi Jadi Capres 2014 di Facebook

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sejak menjadi Gubernur DKI Jakarta, nama Joko Widodo (Jokowi) tak pernah berhenti menghiasi pemberitaan media massa di Indonesia.
Sosok kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), seolah 'menyihir' masyarakat dengan berbagai tindakannya, terutama aksi 'blusukan' yang kerap ia lakukan.
Karisma Jokowi yang dinilai sederhana dan merakyat, merebut hati banyak orang. Kepemimpinannya dianggap memuaskan 'dahaga' banyak pihak akan sosok pejabat yang 'membumi' dan mengerti kebutuhan warganya.
Jelang Pemilu 2014, nama Jokowi santer diberitakan sebagai sosok yang pantas menjadi Presiden RI. Para pendukungnya pun terus 'berperang' agar mantan Wali Kota Solo benar-benar menjadi pengganti Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memimpin negeri ini.
Di dunia maya, berbagai dukungan untuk Jokowi juga terus bermunculan, salah satunya grup di Facebook yang bernama 'Gerakan Memaksa Jokowi untuk Siap jadi Capres 2014'. Grup ini dibuat sejak 2 Februari 2013.
"Terlalu Lama menunggu sampai tahun 2019, apabila Jokowi baru akan Siap menjadi Capres 2019.Sebaiknya mulai saat ini kita Paksa Jokowi untuk SIAP Menjadi Capres 2014 untuk Mempercepat Perbaikan Negeri Ini dan Menjadikan Indonesia Baru." Begitulah yang tertulis dalam profil yang dibuat sang administrator grup tersebut.
Hingga Rabu (28/8/2013) pukul 11.30 WIB, grup ini sudah di-like 5.551 Facebookers. Di timeline-nya, grup ini menampilkan berita-berita tentang Jokowi, dari berbagai portal berita, termasuk Tribunnews.com.
Semakin dekat Pemilu 2014, mungkin grup semacam ini bakal terus menjamur. Apalagi, media sosial seperti Facebook memang menjadi media murah meriah untuk berkampanye. (*) 

Ini Kelebihan Anies Baswedan Ketimbang Jokowi Menurut Demokrat


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rektor Universitas ParamadinaAnies Baswedan akhirnya menerima undangan Konvensi Calon Presiden (Capres) Partai Demokrat. Anies mengikuti sesi prakonvensi, Selasa (27/8/2013) kemarin.
Partai Demokrat yakin, kehadiran Anies dalam konvensi akan mengalahkan elektabilitas kader PDI Perjuangan, Joko Widodo (Jokowi). Wasekjen Partai Demokrat Ramadhan Pohan, menuturkan perbedaan antara Jokowi dan Anies Baswedan.
"Bedanya Anies dengan Jokowi, Jokowi kalau ada yang mampet coba perbaiki sendiri. Tapi, Anies menginspirasi orang, dia gerakkan masyarakat dan tidak kerja sendiri," kata Ramadhan di Jakarta, Rabu (28/8/2013)
Ramadhan menjelaskan, Anies tidak hanya andal dalam berteori, tapi juga dalam tindakannya. Dari segi kesederhanaan, kata Ramadhan, Anies juga jauh lebih sederhana ketimbang Jokowi.
Sebab, Anies tumbuh besar menjadi seorang tokoh yang berasal dari kalangan rakyat biasa, tapi Jokowi tumbuh besar menjadi tokoh dengan berlatar belakang pengusaha.
"Soal kesederhanaan dia jauh dibanding Jokowi. Jokowi pengusaha, Anies akademisi yang berakar dari rakyat biasa," ungkap Wakil Ketua Komisi I DPR.
Untuk itu, Ramadhan yakin konvensi Partai Demokrat akan melahirkan figur-figur yang terlatih, sederhana, pintar, terbukti, serta cakap dalam memimpin.
Sehingga, siapapun yang akan memenangkan konvensi, bisa menjadi pilihan masyarakat Indonesia dalam Pilpres 2014.
"Saya sebagai kader ucapkan welcome semoga sukses. Ini kan kali pertama Anies masuk gelanggang politik. Anies harus hati-hati, tapi saya percaya dia mampu lakukan itu. Karena pengetahuan politiknya banyak," tuturnya. (*)


Survei Kompas: Jika Jokowi Tak Jadi Capres, Prabowo dan Ical yang Untung


TRIBUNNEWS.COM – Joko Widodo menjadi sosok penentu yang akan memainkan peranan dominan dalam percaturan Pemilihan Umum 2014, baik pemilu presiden maupun pemilu legislatif. Namun, apakah realitas politik akan memosisikan Gubernur DKI Jakarta itu sebagai calon presiden?
Dengan mempelajari dua kali survei kepemimpinan yang dilakukan Litbang Kompas, Desember 2012 dan Juni 2013, sulit menafikan kemunculan Joko Widodo (Jokowi) menjadi sosok yang dominan dalam wacana Pemilu 2014. Popularitas Jokowi untuk terpilih menjadi presiden jauh melampaui tokoh lainnya sekalipun ia belum menyatakan kesediaan mencalonkan diri.
Jika dilihat berdasarkan pertumbuhan basis massa (sebuah elemen penting dalam menduga tren kekuatan kandidat), hanya ada dua tokoh yang berpeluang besar menjadi presiden mendatang: Jokowi dan Prabowo Subianto. Survei menunjukkan, peningkatan popularitas keduanya linear dengan peningkatan perolehan partai politik. Adapun dukungan kepada tokoh dan partai lainnya relatif stagnan.
Dukungan terhadap Jokowi naik sebesar 14,8 persen selama enam bulan dan suara untuk Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) juga naik 10,3 persen. Demikian juga dengan Prabowo, popularitasnya meningkat sebesar 1,8 persen dan dukungan kepada Partai Gerindra naik 6,9 persen selama enam bulan.
Melihat tren yang terjadi, sulit mengingkari bahwa Jokowi telah menjadi ”berkah” bagi PDI-P. Jika dicalonkan partai itu, kemungkinan besar Jokowi akan menjadi presiden mendatang dan PDI-P akan jadi kekuatan terbesar.
Melihat antusiasme yang tecermin dari hasil survei, pergantian generasi kepemimpinan tampak sudah di depan mata. Namun, apakah Jokowi akan maju sebagai calon presiden (capres) pada Pemilu 2014?
Inilah pertanyaan yang sulit dijawab karena proses politik dapat menghasilkan realitas berbeda. Pertama, terkait dengan kendaraan politik. Posisi Jokowi yang bukan sebagai pengambil keputusan utama (ketua partai) membuatnya sangat bergantung pada kebijakan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri. Jika Megawati maju sebagai capres, hampir tidak mungkin Jokowi maju meskipun dengan kendaraan partai lain mengingat kesantunan politik yang selama ini dijaganya.
Kemungkinan bagi Megawati untuk menggandeng Jokowi sebagai calon wakil presiden, meskipun terbuka peluang untuk menang, tidak terlalu menguntungkan Jokowi. Selain menepiskan terjadinya koalisi, terserapnya Jokowi ke dalam pekerjaan wakil presiden (wapres) akan mengurangi aksinya di panggung riil yang selama ini melesatkan popularitasnya. Dengan melihat kecenderungan ini, tampaknya pilihan untuk tetap menjadi Gubernur DKI akan dipertahankan, kecuali ada tekanan politik.
Bagi Megawati, tanpa didampingi Jokowi, tampaknya akan sulit memenangi pilpres meskipun suara untuk partainya naik signifikan. Resistansi masyarakat yang cukup tinggi terhadap Megawati akan menjadi batu sandungan terberat.
Jika Jokowi dicalonkan, peluang untuk mendapatkan dukungan terbesar, secara matematis, adalah ketika dipasangkan dengan Prabowo. Namun, resistansi yang membesar dapat menjadi hambatan bagi keduanya. Potensi dukungan yang membesar, tetapi dengan hambatan kecil, tampaknya lebih tergambar pada pasangan Jokowi-Jusuf Kalla.
Jika Jokowi tidak dicalonkan sebagai presiden atau wapres, peluang paling besar untuk menjadi presiden ada pada Prabowo. Ia hampir tidak ada hambatan kendaraan partai, kecuali harus berkoalisi untuk pencalonannya. Langkah Prabowo hanya bisa terbendung jika tidak mendapatkan koalisi.
Dengan meniadakan faktor Jokowi, yang sangat diuntungkan berikutnya adalah Aburizal Bakrie. Sebagai Ketua Umum Partai Golkar, peluangnya akan lebih terbuka, terlebih jika dapat menghentikan peluang lawan dengan menyatukan koalisi besar ke kubunya.
Konvensi Demokrat
Proses politik juga akan sangat ditentukan oleh hasil konvensi capres Partai Demokrat. Apabila konvensi dapat memunculkan figur yang tepat, bukan tidak mungkin pertarungan papan atas harus dikalkulasi ulang. Dari nama-nama yang diundang ikut konvensi, sejauh ini hanya mantan wapres Jusuf Kalla (JK) yang masuk dalam lima besar.
Jika Demokrat memunculkan nama JK dan berhasil mendapatkan wakil yang tepat serta mampu menghimpun sejumlah partai koalisi, pertarungan paling ketat mungkin terjadi antara JK dan Prabowo—seandainya tanpa Jokowi. Pendukung Jokowi, yang kecewa dengan tidak majunya calon yang diharapkan, besar kemungkinan mengarahkan pilihan kepada kedua sosok itu. Keduanya mewakili gambaran karakteristik pemimpin yang dibutuhkan saat ini, yakni tegas, berani, dan cepat mengatasi masalah.
Kedua nama ini juga muncul dengan kuat dalam diskusi kelompok terfokus (FGD) dan wawancara mendalam terhadap kalangan akademisi, pengusaha, LSM, dan unsur pimpinan media massa yang dilakukan Litbang Kompas di 10 kota besar.
Proses politik juga akan sangat ditentukan bagaimana wacana kehadiran Jokowi ke panggung politik nasional dibentuk. Sejauh ini ada dua pandangan berbeda. Pertama, menganggap kepemimpinan Jokowi belum cukup matang. Sebaiknya membuktikan dan menuntaskan dulu problem Jakarta. Pandangan ini cenderung mengerem Jokowi untuk masuk ke dalam putaran Pemilu 2014.
Kedua, menganggap bahwa langkah-langkahnya yang hampir dua periode memimpin Solo dan hampir setahun memimpin Jakarta telah cukup membuktikan kredibilitasnya untuk maju sebagai pemimpin nasional. Mereka juga berpandangan, problem Jakarta hanya dapat diselesaikan cepat jika ia diberi kekuasaan lebih tinggi.
Pandangan cukup santer juga disuarakan kalangan luar Jawa yang menginginkan Jokowi tidak hanya menjadi milik warga Jakarta dan kapabilitasnya sebaiknya bermanfaat untuk membereskan masalah nasional. Dalam dua kali survei, gelombang yang berpijak pada pandangan kedua tampaknya kian besar. Namun, politik itu penuh dinamika, semua bisa berubah. Penentuan capres nanti masih ditentukan hasil pemilu legislatif yang akan berlangsung pada April 2014. (Litbang Kompas)


Fenomena Jokowi Ubah Kalkulasi Politik


JAKARTA, KOMPAS.com —  Kemunculan Joko Widodo dengan elektabilitas tertinggi dibandingkan dengan sosok lain diperkirakan makin menghidupkan persaingan dalam bursa calon presiden tahun 2014. Apalagi sejumlah partai politik tetap ingin mengajukan calon sendiri. Namun, fenomena Joko Widodo membuat kalkulasi politik berubah.

Dalam survei Kompas, elektabilitas Joko Widodo (Jokowi) paling tinggi, di atas Prabowo Su- bianto, Megawati Soekarnoputri, Jusuf Kalla, dan Aburizal Bakrie. Jokowi pun diyakini paling berpeluang memenangi Pemilihan Umum Presiden 2014.

Bursa calon presiden (capres) tampaknya makin dinamis, termasuk dengan saling mengawinkan pasangan untuk mencapai elektabilitas tinggi. Sampai saat ini, walaupun masih banyak yang menunggu hasil pemilu legislatif, sejumlah parpol bertekad tetap mengusung calon sendiri, seperti Prabowo (Gerindra), Aburizal Bakrie (Golkar), Hatta Rajasa (PAN), Wiranto-Hary Tanoesoedibjo (Hanura).
KOMPAS IMAGES/VITALIS YOGI TRISNAGubernur DKI Jakarta Joko Widodo
Fenomena Jokowi juga menjungkalkan konstelasi politik lama yang persiapannya sudah dirintis sejak 2009. Direktur Riset Charta Politika Yunarto Wijaya mengatakan, tokoh-tokoh lama, seperti Prabowo dan Aburizal, harus berhitung ulang menghadapi fenomena itu. Semua pihak sedang menunggu tiga hal yang kemungkinan bisa terjadi. ”Pertama, berharap PDI-P tidak ajukan Jokowi agar kekuatan semua pihak kembali lagi pada titik nol,” katanya.

Kedua, kompetitor Jokowi bisa berkoalisi dengan Jokowi, entah bagaimana negosiasinya. Skenario ketiga, pada titik ekstrem, kubu non-Jokowi bisa punya satu semangat untuk menjegal Jokowi secara bersama-sama agar kekuatan Jokowi bisa diimbangi.

”Mereka pasti akan berhitung dengan variabel Jokowi ini, entah melawan, menjatuhkan, atau bergabung,” kata Yunarto, Selasa (27/8). Siapa pun yang akan menjegal atau mengajak Jokowi tetap punya peluang mencapai titik kulminasi, tetapi bedanya saat ini momentum sedang berada di tangan Jokowi.

Namun, parpol lain juga terus bergerak. Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani mengatakan bahwa partainya mengamati lima hingga delapan sosok sebagai calon wakil presiden. Dari nama-nama itu, umumnya bukan orang partai dan dua sampai tiga orang adalah perempuan.

”Kongres Luar Biasa Partai Gerindra pada Februari 2012 memutuskan Prabowo Subianto sebagai capres dan memberi amanat kepada Prabowo untuk mengambil keputusan tentang calon wakil presiden yang akan mendampingi. Meski punya kewenangan penuh, Prabowo biasanya selalu minta pertimbangan kami. Saat ini, kami dalam proses komunikasi dengan lima hingga delapan nama calon wakil presiden itu,” kata Muzani di Kompleks Parlemen, Jakarta.

Fungsionaris PAN, Teguh Juwarno, juga menegaskan, hasil survei Kompas menjadi lecutan bagi kader untuk memperoleh hasil terbaik dalam pemilu legislatif. PAN juga tetap akan mengusung Ketua Umum Hatta Rajasa sebagai capres meski tidak masuk lima besar.

Namun, PAN terus berupaya mendorong peningkatan popularitas serta elektabilitas Hatta, antara lain menyosialisasikan keberhasilan Hatta sebagai Menteri Koordinator Perekonomian.

Jadi, PDI-P pun sebaiknya memastikan Jokowi sebagai kandidat presiden menjelang pemilu legislatif sehingga elektabilitas PDI-P dapat ditingkatkan. Hasil survei itu harus dipertimbangkan betul-betul oleh PDI-P. Kalau salah menentukan, itu justru bisa menurunkan elektabilitas PDI-P,” kata pakar hukum tata negara Saldi Isra.

Sekretaris Jenderal PDI-P Tjahjo Kumolo mengatakan, pihaknya akan memperhatikan momen yang tepat untuk mengumumkan capres, termasuk cawapres. ”Momentum menentukan capres menjadi strategi dan kebijakan partai,” katanya. Untuk itu, diperlukan telaah mendalam. Dinamika politik perlu diperhatikan. Perlu dipertimbangkan pula, yaitu cawapres yang akan dipilih.
KOMPAS. com/Indra AkuntonoJusuf Kalla
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menyambut baik dan siap mendampingi Jokowi sebagai capres ataupun cawapres jika hal itu bisa membawa manfaat bagi rakyat dan negara. Namun, semua itu berpulang pada kehendak PDI-P yang akan mengusungnya, dan pilihan rakyat itu sendiri.

”Bagi saya, hanya satu, selama bisa bermanfaat bagi rakyat dan negara, saya siap melaksanakannya jika bersama Pak Jokowi,” ujarnya.

Menurut Kalla, Jokowi adalah sosok yang didorongnya saat akan menjadi calon gubernur DKI Jakarta tahun lalu. 

”Jokowi sosok yang memiliki kepribadian baik, punya kemampuan, bisa mengambil keputusan dan memenuhi aspirasi rakyat. Lebih penting lagi, jika saya bersama Jokowi, ada yang bilang, itu sebuah harmoni, antara perwakilan Jawa dan luar Jawa,” lanjutnya.

Bagi Tjahjo, PDI-P sangat memperhitungkan hasil-hasil survei yang dilakukan secara independen. PDI-P juga perlu mendengarkan aspirasi masyarakat. ”Saya tidak bisa men-declare ya atau tidak. Perlu dilihat dinamika politik,” kata Tjahjo ketika ditanya apakah PDI-P mengumumkan Jokowi sebagai capres menjelang pemilu legislatif.

Peneliti politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, R Siti Zuhro, mengatakan, PDI-P perlu mempertimbangkan Jokowi, tetapi perlu dikalkulasi serius karena PDI-P juga harus menghitung keberlanjutan politik dinasti yang selama ini melekat pada sosok Megawati.

”Lampu belum hijau, tetapi sudah mulai kuning. Ada kalkulasi politik yang harus dipertimbangkan PDI-P. Tak tertutup kemungkinan, pada akhirnya partai ini akan mengajukan Jokowi sebagai capres,” katanya. (AMR/NTA/FER/NWO/HAR/IAM)

Sumber : KOMPAS CETAK

Editor : Inggried Dwi Wedhaswary