Showing posts with label Konvensi. Show all posts
Showing posts with label Konvensi. Show all posts

Thursday, 29 August 2013

Tak Transparan, Peserta Konvensi Demokrat Akan Terus Berguguran


JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat politik dari Pol-Tracking Institute, Hanta Yudha memperkirakan akan semakin banyak para peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat yang mundur di tengah jalan. Hal ini akan terjadi jika komite konvensi tidak bersikap transparan seperti yang terjadi kini. 

"Ya, bisa jadi akan mundur di tengah jalan nantinya. Akan semakin berguguran pesertanya kalau mekanismenya tidak transparan," ujar Hanta saat dihubungi Jumat (30/8/2013). 

Hanta mengatakan, salah satu poin krusial yang perlu diperjelas komite konvensi adalah tentang penetapan calon Presiden nantinya. Meski sudah disebutkan komite akan ada survei, namun aturan dasar Partai Demokrat masih memungkinkan adanya intervensi Majelis Tinggi Partai Demokrat yang diketuai Susilo Bambang Yudhoyono. 

"Aturan penetapan capres juga belum jelas, karena ada poin di AD/ART Demokrat, di mana capres ditetapkan Majelis Tinggi," kata Hanta. 

Menurut Hanta, jika penetapan capres tak juga diungkap komite konvensi, maka publik akan semakin antipati atas pelaksanaan konvensi itu. Jika semakin banyak kandidat yang mundur, maka kredibilitas Partai Demokrat dalam memilih capres pun dipertanyakan. 

Seperti diberitakan, empat orang kandidat yang diundang komite konvensi yakni mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah Rustriningsih, dan Direktur Utama Lion Air Rusdi Kirana mundur dari konvensi. Mahfud merupakan orang yang paling keras mengkritik cara kerja komite yang dinilainya tidak transparan dan kerap berubah-ubah keterangannya mengenai mekanisme dan kriteria kandidat. 

Selain tiga nama itu, Bupati Kutai Timur Isran Noor yang namanya sempat diajukan komite tiba-tiba saja tidak diundang mengikuti tahapan prakonvensi. Sementara itu, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla juga menolak undangan komite meski sudah tiga kali didatangi komite.

Editor : Caroline Damanik

4 Batal, Ini Formasi Kesebelasan Konvensi Demokrat


JAKARTA, KOMPAS.com — Pra-Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat yang digelar sejak Sabtu (24/8/2013) telah usai. Ajang penjaringan kandidat calon presiden ini menyisakan 11 nama. Padahal, sebelum menggelar Pra-Konvensi, ada 15 nama yang mengudara. 

Di hari terakhir penyelenggaraan Pra-Konvensi, empat nama lainnya batal ikut. Orang pertama yang kali pertama memutuskan batal untuk ikut adalah mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD. 

Mahfud memasuki ruang Pra-Konvensi sekitar 15 menit untuk membacakan surat keputusannya. Mahfud mengaku batal mengikuti konvensi karena mekanisme konvensi yang belum jelas. 

Setelah Mahfud, Direktur Utama Lion Air Rusdi Kirana juga memutuskan tidak mengikuti konvensi. Rusdi menyampaikan langsung keputusannya kepada komite. Dengan bahasa yang diperhalus, Rusdi mengaku menunda keikutsertaannya pada konvensi lantaran ingin fokus pada bisnisnya. 

Selanjutnya, mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Rustriningsih, juga memutuskan untuk tidak mengikuti konvensi. Rustriningsih menghadiri Pra-Konvensi selama 30 menit sebelum menyampaikan keputusannya. Dia mengaku batal ikut karena masih ingin fokus berkarier dan mengurus keluarga di kampung halamannya, Jawa Tengah. 

Terakhir, ada juga nama Bupati Kutai Timur Isran Noor yang sebelumnya disebut akan ikut konvensi, tetapi tidak terjadwal dalam tahap Pra-Konvensi. Komite Konvensi Capres Partai Demokrat enggan menyebutkan alasan yang jelas terkait hilangnya nama Isran Noor ini. 

Juru Bicara Komite Rully Charis menyatakan, pihaknya tidak pernah menyebut nama-nama peserta yang akan mengikuti Pra-Konvensi, termasuk Isran Noor. Dengan begitu, inilah formasi kesebelasan Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat: 

1. Ali Masykur Musa (anggota Badan Pemeriksa Keuangan); 
2. Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina); 
3. Dahlan Iskan (Menteri BUMN)
4. Dino Patti Djalal (Duta Besar RI untuk Amerika Serikat)
5. Endriartono Sutarto (mantan Panglima TNI)
6. Gita Wirjawan (Menteri Perdagangan) 
7. Irman Gusman (Ketua Dewan Perwakilan Daerah)
8. Hayono Isman (anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Demokrat) 
9. Marzuki Alie (Ketua Dewan Perwakilan Rakyat)
10. Pramono Edhie Wibowo (mantan Kepala Staf Angkatan Darat)
11. Sinyo Harry Sarundajang (Gubernur Sulawesi Utara).

Editor : Hindra Liauw

Konvensi Demokrat "Ditinggal" karena Dianggap Tak Jelas


JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Arie Sudjito menilai, mundurnya Mahfud MD, Rustriningsih, dan Rusdi Kirana dari keikutsertaan dalam proses Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat dikarenakan anggapan bahwa konvensi merupakan panggung politik yang tak jelas. 

Menurutnya, hal ini harus menjadi pelajaran bagi komite konvensi agar lebih transparan dalam menyampaikan konsekuensi konvensi sekaligus untuk memberi pelajaran politik bagi masyarakat. 

Arie menegaskan, para tokoh yang memutuskan batal mengikuti seleksi konvensi pasti telah membuat kalkulasi sendiri. Kelebihan dan kekurangan konvensi dipertimbangkan. Keputusan batal ikut pun keluar setelah konvensi dinilai lebih banyak kekurangannya. 
KOMPAS.com/PUJI UTAMIWakil Gubernur Jawa Tengah Rustriningsih saat ditemui dikantornya Senin (27/5/2013)
"Pasti dikalkulasi ke depannya bagaimana. Kalau kepilih konsekuensinya apa? Nah ini yang belum di-declare ke publik," kata Arie saat dihubungiKompas.com, dari Jakarta, Jumat (30/8/2013) pagi.

Idealnya, kata Arie, komite konvensi menyampaikan semua hal terkait konvensi kepada masyarakat. Tak hanya soal aturan main, tetapi juga alasan mengapa seorang tokoh diundang, hingga tokoh tersebut menyatakan siap ikut, atau sebaliknya.

Ia menekankan, konvensi tidak hanya harus transparan dan kredibel, tetapi juga mampu memberi pelajaran politik kepada masyarakat. Saat masih banyak pertanyaan, saat itu pula konvensi dinilai belum transparan dan belum mencerdaskan masyarakat dalam berpolitik. 

"Memangnya publik tahu? Harusnya komite menyampaikan, kenapa dia mundur, kenapa dia setuju. Apa karena perbedaan visi, atau kenapa? Value-nya harus ada," ujarnya. 

Seperti diberitakan, Pra-Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat yang digelar sejak Sabtu (24/8/2013) telah selesai. Gelaran penjaringan kandidat calon presiden ini menyisakan 11 nama. Padahal, sebelum menggelar pra-konvensi, ada 15 nama yang disebut diundang untuk ikut. 

Di hari terakhir penyelenggaraan pra-konvensi, Kamis (29/8/2013), tiga orang menyatakan batal ikut. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, yang kali pertama menyatakan membatalkan keikutsertaannya. Mahfud memasuki ruang pra-konvensi sekitar 15 menit untuk membacakan surat keputusannya. Ia mengaku batal ikut karena mekanisme konvensi yang belum jelas. 
IHSANUDDINDirektur Utama Lion Air Rusdi Kirana sesaat sebelum memulai Pra-Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat di Wisma Kodel, Jakarta, Kamis (29/8/2013)
Setelah Mahfud, Direktur Utama Lion Air Rusdi Kirana juga memutuskan tidak mengikuti konvensi. Rusdi menyampaikan langsung keputusannya kepada komite. Dengan bahasa yang diperhalus, Rusdi mengaku menunda keikutsertaannya pada konvensi lantaran ingin fokus pada bisnisnya. 

Selanjutnya, mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Rustriningsih, juga memutuskan untuk tidak mengikuti konvensi. Ia menghadiri pra-konvensi selama 30 menit sebelum menyampaikan keputusannya. Dia mengaku batal ikut karena masih ingin fokus berkarier dan mengurus keluarga di kampung halamannya, Jawa Tengah. 

Sementara itu, satu nama lain, yang disebut diundang dalam konvensi ini, yaitu Bupati Kutai Timur Isran Noor, justru tidak terjadwal dalam tahap pra-konvensi. Komite Konvensi Capres Partai Demokrat enggan menyebutkan alasan terkait tak adanya nama Isran. 

Juru Bicara Komite Rully Charis menyatakan, pihaknya tidak pernah menyebut nama-nama peserta yang akan mengikuti pra-konvensi, termasuk Isran Noor. 

Berikut adalah 11 nama calon perserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat: 
1. Ali Masykur Musa (anggota Badan Pemeriksa Keuangan); 
2. Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina); 
3. Dahlan Iskan (Menteri BUMN);
4. Dino Patti Djalal (Duta Besar RI untuk Amerika Serikat);
5. Endriartono Sutarto (mantan Panglima TNI);
6. Gita Wirjawan (Menteri Perdagangan);
7. Irman Gusman (Ketua Dewan Perwakilan Daerah);
8. Hayono Isman (anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Demokrat);
9. Marzuki Alie (Ketua Dewan Perwakilan Rakyat);
10. Pramono Edhie Wibowo (mantan Kepala Staf Angkatan Darat);
11. Sinyo Harry Sarundajang (Gubernur Sulawesi Utara).

Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

Rustriningsih Batal Ikuti Konvensi Demokrat


JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah Rustriningsih juga memutuskan batal mengikuti Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat. Sebelumnya, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD dan Direktur Utama Lion Air Rusdi Kirana juga memutuskan untuk batal ikut dalam konvensi ini. 

Rustriningsih awalnya datang memenuhi undangan Pra-Konvensi di Wisma Kodel, Jakarta, Kamis (29/8/2013). Datang sendirian pukul 19.35, Rustriningsih langsung masuk ke ruang Pra-Konvensi. Rustriningsih berada di dalam ruangan yang berisi 17 orang anggota Komite Konvensi itu selama lebih kurang 30 menit. 

Namun setelah keluar, dia menyatakan untuk tidak mengikuti konvensi. "Saya sudah sampaikan kepada komite, maaf kalau tidak bisa memenuhi harapan untuk mengikuti konvensi yang akan diselenggarakan," kata Rustriningsih. 

Rustriningsih mengaku mengambil keputusan tersebut karena masih ingin berkiprah di Jawa Tengah. Selain itu dia juga mengaku ingin fokus mengurus keluarga. Rustriningsih menolak jika keputusannya tersebut diambilnya berdasarkan hasil diskusi bersama Komite Konvensi Demokrat di dalam ruangan. 

Menurutnya, ia telah memutuskan sebelum tiba di Wisma Kodel. Menurutnya, diskusi menjadi sedikit lama karena sekaligus bersilaturahim dengan Komite Konvensi yang beberapa di antaranya adalah teman lama. 

Rustriningsih juga menyangkal keputusannya dipengaruhi oleh tekanan dari partainya, yakni PDI-P.

Editor : Hindra Liauw

Giliran Bos Lion Air Batal Ikut Konvensi Demokrat


JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, kini giliran Direktur Utama Lion Air Rusdi Kirana yang batal mengikuti Konvensi calon presiden Partai Demokrat. Rusdi awalnya datang memenuhi undangan Pra-Konvensi di Wisma Kodel, Jakarta, Kamis (29/8/2013). 

Datang sendirian pukul 18.15, Rusdi langsung masuk ke ruang Pra-Konvensi. Berbeda dengan Mahfud yang hanya masuk sekitar 15 menit, Rusdi berada di dalam selama satu jam sesuai waktu yang dijadwalkan. Namun setelah keluar, dia menyatakan untuk tidak mengikuti Konvensi. 

"Saya memutuskan untuk menunda pencapresan ini. Mungkin saya akan mengikuti konvensi sepert ini lima tahun lagi," kata Rusdi. 

Dia mengaku mengambil keputusan tersebut karena masih ingin fokus kepada usaha penerbangannya. Dia mendapatkan berbagai saran dari mitra kerja dalam dan luar negeri untuk menunda pencapresan. 

"Saya sendiri tentu harus membicarakan segala sesuatunya dengan mitra kerja dalam dan luar negeri. Dari bahasa tubuh mereka, mereka belum ingin saya mencapreskan diri sekarang," kata Rusdi. 

Rusdi menolak jika keputusannya tersebut diambilnya dari hasil diskusi bersama 17 orang komite konvensi di dalam ruangan. Menurutnya, keputusan tersebut sudah dibawanya sejak berangkat dari rumah. Menurutnya, diskusi menjadi lama karena dia baru mengungkapkan keputusannya tersebut di akhir diskusi. 

Menanggapi hal ini, Juru Bicara Konvensi Demokrat Hinca Panjaitan kembali mengungkapkan hal yang sama saat Mahfud memutuskan batal mengikuti konvensi. 

"Iya kita hormati juga keputusannya Pak Rusdi," kata Hinca.

Editor : Hindra Liauw

Ramadahan Pohan: ARB Kandidat Kuat Pemenang Konvensi Demokrat


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Ramadhan Pohan menilai, ARB menjadi kandidat terkuat pemenang konvensi yang digelar partainya.
ARB identik dengan nama Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie. Namun, maksud Pohan ternyata bukan Ketua Umum Golkar yang diusung sebagai calon presiden, melainkan Rektor Paramadina Anies Baswedan.
"Salah satu kandidat terkuat itu ARB, Anis Rasyid Baswedan," kata Pohan di Jakarta, Jumat (30/8/2013).
Menurut Pohan, Anies Baswedan merupakan sosok yang sederhana dan tidak kapitalis.
"Kalau orang yang kejar keuntungan sudah biasa dengan usaha," tuturnya.
Meskipun mendukung Anies Baswedan, Pohan mengaku bukanlah tim sukses Rektor Paramadina. Ia hanya menilai Anies dapat menjadi pemenang konvensi. Apalagi, Pohan telah memerhatikan sepak terjang Anies sejak lama.
"Saya tahu tentang Anies sudah lama, pergerakan mahasiswa dia turun. Dia di UGM aktif sekali. Ini anak aset bangsa. Dia 100 tokoh berpengaruh di dunia. Dalam konteks hubungan internasional. Dia masuk dalam center of excellent," paparnya. (*)


Ditinggal Tokoh Kuat, Konvensi Demokrat Kehilangan Gengsi


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pakar Psikologi Politik Universitas Indonesia, Hamdi Muluk menyebut konvensi Partai Demokrat telah kehilangan daya tariknya. Hal itu diindikasikan dengan mundurnya sejumlah tokoh kuat dari konvensi.
Menurut Hamdi, nama-nama besar peserta konvensi yang memutuskan untuk mundur, maka tujuan untuk menaikkan pamor partai dengan diselenggarakannya konvensi akan sulit terwujud.
"Pasti dong, karena dianggap nama-nama yang cukup kuat itu kan Jusuf Kalla, Mahfud MD, Dahlan Iskan. Jika JK dan Mahfud mundur tentu akan semakin berkurang gengsinya," ujar Hamdi di Sekretariat Partai Serikat Independen (SRI), Pasar Manggis, Jakarta Selatan, Kamis (29/8/2013).
Hamdi juga mengatakan, jika konvensi dimaksud untuk menaikkan pamor partai, langkah demokrat dalam menggelar konvensi dengan mengundang tokoh-tokoh eksternal justru akan menciptakan efek yang keliru.
"Itu (konvensi) kan (harusnya) mekanisme nominasi terhadap calon internal. Jadi digaet dari bawah dan ujikan ke publik, itu dilakukan karena kadernya bagus. Kalau justru mengejar kader dari luar apakah justru bukan sebaliknya? Seolah-olah miskin kader," tuturnya.
"Nanti akan terbukti apakah memang menaikan konvensi," ujarnya.


Tolak Ikut Konvensi, Rustriningsih Merasa Tak Ditekan PDIP


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah yang juga kader PDI Perjuangan, Rustriningsih menegaskan keputusannya menolak ikut konvensi Calon Presiden Partai Demokrat adalah pilihan dirinya sendiri.
PDI Perjuangan, partai tempatnya bernaung tak pernah menekan dirinya untuk melakukan penolakan.
"Saya kira tidak ada tekanan," ujar Rustri, Kamis (29/8/2013).
Bahkan dia juga yakin, Ketua Umum PDI Perjuangan memberikan kepercayaan begitu besar kepada para kader untuk mengerti hal-hal yang bisa dilakukan dan tidak. Termasuk terkait keputusan yang akan diambil Rustri menjawab undangan komite konvensi Capres.
Lebih lanjut Rustri juga berharap, penolakannya untuk tidak mengikuti tahapan konvensi selanjutnya di depan Komite mengakhiri perdebatan selama ini.
"Mudah-mudahan demikian. Tidak ada lagi yang mempersepsikan lain-lain. Walaupun ada ucapan kasar dan itu saya mengerti karena mereka tidak mengikuti saya sejak awal. Saya sangat memaklumi dan kita lihat latar belakangnya," kata Rustri.


Bos Lion Air dan Rustriningsih Diundang Komite Malam Ini


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Usai mantan Ketua Mejelis Konstitusi (MK), Mahfud MD, dua nama lain juga turut diundang Komite Konvensi calon presiden Kamis (29/8/2013) malam ini.
Juru bicara komite Partai Demokrat, Rully Charis mengungkapkan CEO Lion Air Rusdi Kirana dan kader PDIP Rustriningsih.
"Ada dua lagi, Pak Rusdi Kirana dan Bu Rustriningsih," ujar Rully Charis kepada wartawan di Wisma Kodel, Jakarta, Kamis.
Menurut penuturannya, berdasarkan jadwal Rusdi akan bertemu Komite Konvensi pukul 18.30 WIB dan Rustri pada pukul 19.30 WIB.
Lebih lanjut menurutnya, usai dua tokoh ini proses pra-konvensi sudah selesai dengan jumlah tokoh yang diundang komite sebanyak 14 orang.
"Ini hari terakhir, besok tinggal pengumuman dan penyampaian hal teknis kepada tim," katanya.
Sedangkan Jumat (30/8/2013) besok, komite akan menetapkan peserta konvensi Capres Parati demokrat.


Dahlan Iskan Idamkan Partai Demokrat Sejak Lama


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bukan tanpa alasan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan mengikuti undangan sebagai peserta calon presiden lewat Konvensi Partai Demokrat. Ia mengaku sudah mengidamkan adanya partai tengah yang kuat. Baginya, kriteria itu ada di Partai Demokrat.
"Saya menerima tawaran melalui Demokrat karena sejak lama sudah menginginkan semacam idealisme bahwa Indonesia yang begini besar, beraneka ragam memerlukan partai tengah yang kuat. Dan Demokrat adalah partai tengah," ujar Dahlan usai sesi prakonvensi di Jakarta, Kamis (29/8/2013).
Dahlan mengakui, partai berlambang segi tiga mercy dalam perjalannya tersandung kasus korupsi sejumlah kader. Namun, apapun masalah yang terjadi tetap bisa diperbaiki. Inilah yang menjadi pertanyaan dirinya, dan pada akhirnya menerima undangan.
"Kenapa saya tidak memilih partai tengah yang lain, karena yang menawari saya Demokrat. Dan partai tengah lain sudah punya calon sendiri, sehingga komitmen saya Indonesia harus mempunyai partai tengah yang besar. Karena Indonesia adalah negara besar yang beraneka ragam," tambahnya.
Ketika dikonfirmasi, apakah dirinya akan menerima pinangan partai lain jika kemudian kalah dalam pencapresan di Konvensi, Dahlan menjawab diplomatis. Menurutnya, perjalanan masih panjang, dan banyak hal yang bisa berubah selama itu.
Dalam peraturan Komite, peserta yang terpilih sebagai capres harus masuk sebagai kader Demokrat, dan Dahlan menjawab tantangan itu. Ia mengaku, itulah konsekuensi yang harus dipenuhi kalau lolos dan dicalonkan Partai Demokrat. Dahlan enggan menjadi bunglon dan munafik.
"Begitu menjalani proses ini sudah tergambarkan menjdi kader, dan jadi kader Demokrat tidak jelek. Apalagi visi saya ingin Indonesia mempunyai partai tengah kuat, ini ideologis. Kalau tak lolos apakah akan ke partai lain, rasanya tidak, dan bukan karena tak mau. Cuma semua partai sudah punya calon sendiri," tegasnya.


Komite Hormati Sikap Mahfud MD yang Batal Ikut Konvensi Capres


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menyusul keputusan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD yang batal mengikuti konvensi capres, Komite Konvensi Partai Demokrat mengaku tidak mempermasalahkan. Mereka menghormati keputusan tersebut.
"Kita menghormati keputusan yang diambil pak  Mahfud," ujar Juru Bicara Komite Konvensi, Hinca Panjaitan di Wisma Kodel, Jakarta, Kamis(29/8/2013).
Sebagaimana diketahui, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK)Mahfud MD menolak ikut menjadi peserta konvensi calon presiden Partai Demokrat.
Hal itu terungkap kala pemandangan berbeda tersuguhkan di Sekretariat Komite Konvensi, Wisma Kodel, Jakarta, Kamis (29/8/2013) sore. Hanya sekitar lima menit Mahfud MD bertemu dengan komite konvensi calon presiden Partai Demokrat di Wisma Kodel, Kuningan, Jakarta.
Sontak para awak media kaget. Pasalnya berdasarkan pengalaman peserta sebelumnya, waktu satu jam dibutuhkan dalam wawancara pra-konvensi.
Ditemani Jubir Komite Konvensi, Hinca Panjaitan, dan Suaedy Marasabessy selaku Sekretaris merangkap anggota Komite, Mahfud langsung menyatakan sikapnya. Dia pun langsung membacakan pernyataan dirinya seperti yang juga dibacakannya di hadapan komite.


Batal Ikut Konvensi Capres, Mahfud MD Dinilai Melek Politik


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menilai keputusan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menolak ikut menjadi peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat.
"Itu artinya Mahfud MD paham dan mengerti Politik," tegas Fadli kepada Tribunnews.com, Kamis (29/8/2013).
Fadli mengatakan, keputusan mantan Ketua MK menunjukkan dirinya paham dan mengerti Politik. Ada Politik dengan "P" besar itu untuk kepentingan negara, kepentingan besar. Sedangkan Politik dengan "P" kecil, sekedar permainan taktis sesaat.
Menurutnya, ajang konvensi tentu menyajikan tawaran menggiurkan dan bisa membuat orang yang semula tak ambisi bisa menjadi ambisius. Namun bacaan terhadap realitas politik seseorang menunjukkan kalibernya. 
Apakah proses politik itu benar-benar untuk kepentingan nasional kepentingan bangsa, atau sekedar taktik politik jangka pendek.
Menurutnya, ada yang terjebak, dan ada juga yang tetap sadar dan waras.
"Namun itu hak setiap orang, dan proses Politik dalam menjaring capres harus dihargai. Sah-sah saja," jelas dia.


Gerindra Apresiasi Sikap Mahfud MD Batal Ikut Konvensi Capres Demokrat


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra, Martin Hutabarat mengapresiasi sikap Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menolak ikut menjadi peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat.
Menurut Martin, Mahfud MD kritis dan tajam melihat ide konvensi yang hanya digunakan sebagai alat pencitraan semata.
"Mereka-mereka yang diajak ikut konvensi dijadikan sebagai aktor bermain dalam sebuah skenario yang dimainkan sutradaranya. Mahfud menyadari benar hal itu, makanya dia menolak," ujar Martin kepada Tribunnews.com, Kamis (29/8/2013).
Martin menilai pengamatan Mantan Ketua MK ini tajam melihat hal-hal yang ada dibalik niatan Konvensi, dan disertai integritas yang tinggi untuk mengambil sikap seperti ini.
Lebih lanjut Martin menjelaskan sekarang Mahfud bermain dan memainkan dirinya dipanggung yang diciptakannya sendiri.
"Apapun hasilnya, Mahfud sudah menunjukkan kelasnya yang memang beda. Bukan menjadi figuran di panggung yang dibuat orang lain, tanpa ada jaminan akan dicalonkan oleh partai yang mengusung konvensi ini," tuturnya.
Sebegaimana diberitakan, Mahfud MD menolak ikut menjadi peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat.
Hal itu terungkap kala pemandangan berbeda tersuguhkan di Sekretariat Komite Konvensi, Wisma Kodel, Jakarta, Kamis (29/8/2013) sore. Hanya sekitar lima menit Mahfud MD bertemu dengan Komite Konvensi Calon Presiden Partai  Demokrat di Wisma Kodel, Kuningan, Jakarta.
Sontak para awak media kaget. Pasalnya berdasarkan pengalaman peserta sebelumnya, waktu satu jam dibutuhkan dalam wawancara pra-konvensi.
Ditemani Jubir Komite, Hinca Panjaitan, dan Suaedy Marasebessy selaku Sekretaris merangkap anggota Komite, Mahfud langsung menyatakan sikapnya. Dia pun langsung membacakan pernyataan dirinya seperti yang juga dibacakannya di hadapan komite.


Ini Surat Pengunduran Diri Mahfud MD dari Konvensi Capres Demokrat


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ruangan konferensi pers, tempat pemaparan peserta calon presiden Konvensi Partai Demokrat di Wisma Kodel lantai 11, Jakarta, Kamis (29/8/2013) sore, tiba-tiba riuh. Tanpa diduga, Mahfud MD yang diundang Komite Konvensi mengajukan menolak ikut.
Wartawan sangat terkejut, pasalnya Mahfud tidak sampai satu jam, waktu yang hampir kebanyakan digunakan peserta selama wawancara dengan Komite Konvensi, keluar dalam hitungan beberapa menit. Ini membuat wartawan bertanya-tanya kenapa Mahfud begitu cepat.
Pertanyaan itu langsung terjawab. Diapit Sekretaris dan anggota Komite Konvensi, Suaedy Marasabesy dan Hinca Panjaitan sambil duduk di sofa yang tersedia, Mahfud membacakan dua helai kertas di tangannya. Nada suaranya mantap, konstan, Mahfud membacakan isi suratnya, yang ia bacakan juga di depan Komite.
Apa sebetulnya isi surat yang melatarbelakangi, berikut pertimbangan Mahfud sampai tidak mengikuti Konvensi Capres Partai Demokrat, ini lengkapnya:
Jakarta, 29 Agustus 2013.
Kepada Yth. Komite Konvensi Partai Demokrat
di
Jakarta.
Assalamu Alaikum Wr. Wb.
Sehubungan dengan Konvensi Partai Demokrat yang proses perekrutan pesertanya sudah dimulai pada bulan Agustus 2013 ini, maka dengan penuh hormat saya sampaikan bahwa:
Pertama:
Saya menyampaikan terimakasih atas undangan komite, baik yang disampaikan melalui surat resmi bernomor 09/B/KOMITE/VIII/2013 maupun yang disampaikan secara langsung dengan lisan oleh anggota-anggota komite, melalui pertemuan-pertemuan tatap muka dan telepon, agar saya mengikuti Konvensi Partai Demokrat dalam penjaringan calon presiden Republik Indonesia. Saya sungguh merasa terhormat dan mengapresiasi kehormatan komite yang telah menyampaikan undangan tersebut.
Kedua:
Saya juga telah menerima permintaan dari Partai Demokrat melalui Sekretaris Tinggi Bapak Jero Wacik, baik melalui telepon maupun tatap muka, serta dorongan kuat dari beberapa tokoh Partai Demokrat dan organisasi sayapnya. Saya sungguh terharu dan merasa terhormat, serta menyampaikan terimakasih kepada sahabat-sahabat di Partai Demokrat.
Kedua:
Menurut saya penyelenggaraan konvensi ini merupakan pilihan cerdas dan bijaksana untuk menterjemahkan ketemuan Pasal 6A UUD 1945 ke dalam realitas politik yang dibutuhkan oleh masyarakat tanpa harus terburu-buru mengalternatifkan amandemen Pasal 6A UUD 1945. Bahwa dibalik penyelenggaraan konvensi ada motif untuk menaikkan elektabilitas Partai Demokrat menurut saya hal tersebut sah adanya sebab setiap parpol memang harus berusaha menaikkan elektabilitasnya melalui jalan-jalan yang konstitusional. Pilihan konvensi yang meminta rakyat untuk "memilihkan" calon presiden untuk Partai Demokrat sungguh merupakan terobosan yang baik dalam memberi tafsir dinamis atas ketentuan konstitusi yang selama ini dianggap terlalu membelenggu.
Keempat:
Meskipun begitu, saya merasa bahwa saya pribadi tidak harus mengikuti kontes politik yang baik tersebut karena beberapa hal:
1. Ada pertanyaan di bekak saya yang sampai sekarang belum menjawab meskipun saya sudah menyampaikannya, langsung kepada anggota Komite Konvensi maupun melalui media massa, "Mengenai Hak dan Kewajiban Peserta Konvensi dan Partai Demokrat" terutama setelah konvensi selesai dan pemenangnya sudah ditetapkan serta hasil pemilu legislatif sudah selesai. Selama ini saya hanya mendengar penjelasan dan jaminan lisan, tanpa ada yang tertulis, sementara AD/ART Partai Demokrat menentukan mekanisme yang berbeda dengan berbagai penjelasan dan jaminan lisan tersebut.
2. Para Guru saya yaitu kyai-kyai dari pondok pesantren, tokoh-tokoh perseorangan terkemuka di NU, Muhammadiyah, dan gereja serta kolega-kolega di berbagai perguruan tinggi, tokoh-tokoh masyarakat, dan komunitas-komunitas di massa saya bergaul dan ikut memimpin, banyak yang menyarankan agar saya tidak ikut konvensi tanpa mengurangi rasa hormat kepada Partai Demokrat. Saya akui ada juga beberapa kawan yang menyarankan agar saya ikut konvensi karena konvensi dianggap peluang untuk mendapat tiket menjadi Capres dan dianggap sebagai niat baik dari Partai Demokrat".
Kelima:
Berdasarkan hal-hal yang disebutkan pada butir keempat dan setelah saya merenung dan berkonsultasi kepada Allah SWT melalui salat istikharah serta mendiskusikan secara mendalam dengan Tim Politik Saya maka saya memutuskan untuk tidak mengikuti konvensi Partai Demokrat. Saya turut berdoa agar partai Demokrat dapat memperoleh calon presiden yang baik agar masa depan Indonesia ini menjadi lebih baik pula.
Baik kepada pimpinan Partai Demokrat maupun kepada Komite Konvensi, selain ucapan terimakasih yang telah dikemukakan di awal surat ini saya juga memohon maaf yang sebesar-besarnya. Marilah kita berjuang untuk membangun kebaikan bagi Indonesia melalui berbagai pintu yang berbeda (min abwaabin mutafarriqah) dengan tujuan yang sama yaitu memperbaiki Indonesia.
Dengan segala hormat saya
Moh. Mahfud MD
Tembusan:
Pimpinan Partai Demokrat di Jakarta.
Ketua Yayasan 135 di Jakarta
Usai membacakan surat itu, Mahfud mempertegas, apa yang tertulis di dalamnya sudah jelas. Sehingga ia mengatakan tidak ada lagi sesi tanya jawab. Mahfud pun keluar dari ruangan konferensi pers, dan langsung menuju lift untuk pulang. Di tengah waktu sedikit itu, Mahfud sama sekali tidak komentar ditanyai wartawan.


Partai Demokrat Tidak Kecewa Mahfud MD Batal Ikut Konvensi


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Keputusan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menolak ikut menjadi peserta konvensi calon presiden tidak membuat Partai Demokrat kecewa.
Apalagi menurut Suaedy Marasabesy selaku Sekretaris Komite Konvensi Capres, ketentuan mekanisme konvensi juga sudah menyatakan setiap peserta diberikan hak untuk mengundurkan diri.
"Tidak ada kecewa. Hak politik seseorang kita hormati. Kita berikan ruang seluas-luasnya bagi tokoh nasional untuk menggunakan ini. Terus kalau tidak menggunakan ngapain kecewa," kata Suaedy di Wisma Kodel, Jakarta, Kamis (29/8/2013).
Suaedy mengatakan dalam ketentuan mekanisme konvensi, setiap peserta diberikan hak untuk mengundurkan diri. Jadi kalau Mahfud MDmenolak, itu adalah hal politiknya untuk memutuskan ikut atau tidak.
Dia juga mengaku baru tahu keputusan Mahfud tidak ikut konvensi tadi saat mantan Ketua MK itu memenuhi undangan dan bertemu Komite Konvensi.
Sebagaimana diberitakan, Mahfud MD menolak ikut menjadi peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat.
Hal itu terungkap kala pemandangan berbeda tersuguhkan di Sekretariat Komite Konvensi, Wisma Kodel, Jakarta, Kamis (29/8/2013) sore. Hanya sekitar lima menit Machfud MD bertemu dengan Komite Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat di Wisma Kodel, Kuningan, Jakarta.
Sontak para awak media kaget. Pasalnya berdasarkan pengalaman peserta sebelumnya, waktu satu jam dibutuhkan dalam wawancara pra-konvensi.
Ditemani Jubir Komite, Hinca Panjaitan, dan Suaedy Marasebessy selaku Sekretaris merangkap anggota Komite, Mahfud langsung menyatakan sikapnya. Dia pun langsung membacakan pernyataan dirinya seperti yang juga dibacakannya di hadapan komite.


Mendadak, Mahfud MD Membatalkan Diri Ikut Konvensi Capres Demokrat


TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menolak ikut menjadi peserta konvensi calon presiden Partai Demokrat.
Hal itu terungkap kala pemandangan berbeda tersuguhkan di Sekretariat Komite Konvensi, Wisma Kodel, Jakarta, Kamis (29/8/2013) sore. Hanya sekitar lima menit Mahfud MD bertemu dengan komite konvensi calon presiden Partai Demokrat di Wisma Kodel, Kuningan, Jakarta.
Sontak para awak media kaget. Pasalnya berdasarkan pengalaman peserta sebelumnya, waktu satu jam dibutuhkan dalam wawancara pra-konvensi.
Ditemani Jubir Komite Konvensi, Hinca Panjaitan, dan Suaedy Marasabessy selaku Sekretaris merangkap anggota Komite, Mahfud langsung menyatakan sikapnya. Dia pun langsung membacakan pernyataan dirinya seperti yang juga dibacakannya di hadapan komite.
"Setelah saya merenung dan berkonsultasi kepada Allah SWT melalui salat istikharah serta mendiskusikan secara mendalam dengan tim politik saya, maka saya memutuskan untuk tidak mengikuti konvensi Partai Demokrat," kata Mahfud MD.
Menurut Mahfud, secara pribadi dirinya merasa tidak harus mengikuti konteks politik konvensi karena beberapa hal.
Pertama, adanya pertanyaan di benaknya yakni mengenai hak dan kewajiban peserta konvensi dan Partai Demokrat terutama setelah konvensi selesai dan pemenangnya sudah ditetapkan serta hasil pemilu legislatif sudah selesai.
Pertanyaan itu hingga sekarang belum terjawab meskipun dirinya sudah menyampaikannya langsung kepada anggota komite maupun melalui media.
"Selama ini saya hanya mendengar penjelasan dan jaminan lisan, tanpa ada yang terulis, sementara AD/ART Partai Demokrat menentukan mekanisme yang berbeda dengan berbagai penjelasan dan jaminan lisan tersebut," tegas dia.
Lebih lanjut menurut Mahfud keputusan ini diambilnya setalah berkomunikasi dengan para guru yaitu kiai-kiai dari pondok pesantren, tokoh-tokoh perseorangan termuka di NU, Muhammadiyah, dan gereja serta kolega-kolega di berbagai perguruan tinggi. Pun demikian dengan tokoh-tokoh masyarakat dan komunitas-komunitas dimana dirinya bergaul dan ikut memimpin.
"Banyak yang menyarankan agar saya tidak ikut konvensi tanpa mengurangi rasa hormat kepada Partai Demokrat," ujarnya.