Thursday, 29 August 2013

Mahfud MD Dilarang Kiai, Rustriningsih Tak Minat

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA--Ruangan konferensi pers tempat pemaparan peserta calon presiden Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat di Wisma Kodel lantai 11, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (29/8), mendadak riuh.
Sore itu, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MDyang diundang Komite Konvensi sebagai calon peserta tiba-tiba menyatakan menolak ikut konvensi. Ia lebih mematuhi nasihat kiai, ulama dan kolega daripada dimanfaatkan membangun cintra partai.
Wartawan sangat terkejut. Mahfud tidak sampai satu jam bertemu dengan komite. Padahal pesrta terdahulu cukup berlama-lama bertemu panitia penjaringan, sedangkan mantan Menteri Pertahanan Era Gus Dur ini keluar dalam hitungan beberapa menit. Inilah membuat wartawan bertanya-tanya mengapa Mahfud begitu cepat menjalani tes.
Pertanyaan itu langsung terjawab. Diapit Sekretaris Suaedy Marasabesy dan anggota Komite Konvensi Hinca Panjaitan, sambil duduk di sofa, Mahfud membacakan dua helai kertas di tangannya. Nada suaranya mantap, konstan, Mahfud membacakan suratnya di hadapan Komite, yang mengatakan tidak bersedia ikut sebagai peserta konvensi capres.
Usai membacakan surat itu, Mahfud mempertegas, apa yang tertulis di dalamnya sudah jelas. Sehingga ia mengatakan tidak ada lagi sesi tanya jawab. Mahfud pun keluar dari ruangan konferensi pers, langsung menuju lift kemudian pulang. Di tengah waktu sedikit itu, Mahfud sama sekali tidak komentar ditanyai wartawan.
"Saya merasa bahwa saya pribadi tidak harus mengikuti kontes politik yang baik tersebut karena beberapa hal," kata Mahfud sembari membeberkan dua butir alasan yang panjang.
Dia mengaku, ada pertanyaan belum terjawab meskipun sudah menyampaikannya langsung kepada anggota komite konvensi maupun melalui media massa. Pertanyaan itu menyangkut hak dan kewajiban peserta konvensi dan Partai Demokrat, terutama setelah konvensi selesai dan pemenangnya sudah ditetapkan serta hasil pemilu legislatif sudah selesai.
"Selama ini saya hanya mendengar penjelasan dan jaminan lisan, tanpa ada yang tertulis, sementara AD/ART Partai Demokratmenentukan mekanisme yang berbeda dengan berbagai penjelasan dan jaminan lisan tersebut," kata Mahfud.
Kemudian, katanya, "para guru saya, yaitu kiai-kiai dari pondok pesantren, tokoh-tokoh perseorangan terkemuka di NU, Muhammadiyah, dan gereja serta kolega-kolega di berbagai perguruan tinggi, tokoh-tokoh masyarakat, dan komunitas-komunitas di massa saya bergaul dan ikut memimpin, banyak yang menyarankan agar saya tidak ikut konvensi tanpa mengurangi rasa hormat kepada Partai Demokrat."
Mahfud pun mengakui beberapa kawan menyarankan agar dia tetap ikut konvensi karena konvensi dianggap peluang untuk mendapat tiket menjadi Capres dan dianggap sebagai niat baik dari Partai Demokrat.
"Dan setelah saya merenung dan berkonsultasi kepada Allah SWT melalui salat istikharah serta mendiskusikan secara mendalam dengan tim politik saya, maka saya memutuskan untuk tidak mengikuti konvensi Partai Demokrat," ujar Mahfud.
Berselang sekitar dua jam setelah Mahfud mundur, Presiden Direktur Lion Air, Rusdi Kirana membatalkan diri mengikuti konvensi Calon Presiden Partai Demokrat. "Saya mohon izin untuk menunda menjadi Calon Presiden sampai tahun 2019, kalau ada kesempatan saat itu," ujar Rudi Kriana usai bertemu Komite Konvensi Capres PartaiDemokrat selama satu jam, di Wisma Kodel, Jakarta, Kamis (29/8) malam.
Keputusan tidak mengikuti konvensi capres ini diambilnya setelah Rusdi berkonsultasi dengan sejumlah rekan-rekan bisnis. Ditambah lagi, bisnis maskapai yang dipimpinnya tengah berkonsentrasi untuk semakin mengembangkan bisnis.
Dia mengatakan sangat ingin maju sebagai Capres melalui mekanisme konvensi. Tapi biarlah sementara ini akan tetap berperan sebagai "duta Indonesia" di tingkat internasional dengan unit bisnisnya.
"Awalnya itu saya tertarik. Setelah ada keseriusan dari pihak komite konvensi dengan beri undangan, saya coba konsultasi dengan teman-teman yang sama kita punya hubungan dagang. Di situ ada bahasa tubuh mereka, meminta saya untuk fokus dulu dengan perusahaan ini," katanya.
Dia juga menegaskan, bahwa selama satu jam bertemu Komite Konvensi, tidak ada arahan agar dirinya mundur dari konvensi. "Tapi saya katakan di dalam tadi, belum waktunya saya. Supaya saya bisa fokus di bisnis saya ini," kata Rusdi.
Kader PDIP Rustriningsih pun menyatakan sikap tidak ikut konvensi. Mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah memang memenuhi undangan Sekretariat Komite Konvensi di Wisma Kelompok Delapan (Kodel), namun sekadar menghormati pengundang.
Selain itu Rustriningsih juga melihat kehadirannya menemui Komite sebagai sebagai silaturahmi politik. "Saya sampaikan kepada Komite bahwa saya mohon maaf sebesar-besarnya kalau tidak bisa memenuhi harapan untuk bisa mengikuti konvensi," ujar Rustri.
Menurut Kader PDI-Perjuangan, dia masih ingin berkonsentrasi dan berkiprah di Jateng. Khususnya dia ingin berkiprah di bidang kemanusiaan dan sosial di Jateng.
Rustriningsih yang saat konferensi pers diapit Bendahara Komite Andi Timo Pangerang dan anggota komite Indrawati Sukadis, menegaskan pula hingga saat ini dirinya masih kader PDI-Perjuangan.(tribunnews/gus/mal)

Ramadahan Pohan: ARB Kandidat Kuat Pemenang Konvensi Demokrat


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Ramadhan Pohan menilai, ARB menjadi kandidat terkuat pemenang konvensi yang digelar partainya.
ARB identik dengan nama Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie. Namun, maksud Pohan ternyata bukan Ketua Umum Golkar yang diusung sebagai calon presiden, melainkan Rektor Paramadina Anies Baswedan.
"Salah satu kandidat terkuat itu ARB, Anis Rasyid Baswedan," kata Pohan di Jakarta, Jumat (30/8/2013).
Menurut Pohan, Anies Baswedan merupakan sosok yang sederhana dan tidak kapitalis.
"Kalau orang yang kejar keuntungan sudah biasa dengan usaha," tuturnya.
Meskipun mendukung Anies Baswedan, Pohan mengaku bukanlah tim sukses Rektor Paramadina. Ia hanya menilai Anies dapat menjadi pemenang konvensi. Apalagi, Pohan telah memerhatikan sepak terjang Anies sejak lama.
"Saya tahu tentang Anies sudah lama, pergerakan mahasiswa dia turun. Dia di UGM aktif sekali. Ini anak aset bangsa. Dia 100 tokoh berpengaruh di dunia. Dalam konteks hubungan internasional. Dia masuk dalam center of excellent," paparnya. (*)


Ditinggal Tokoh Kuat, Konvensi Demokrat Kehilangan Gengsi


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pakar Psikologi Politik Universitas Indonesia, Hamdi Muluk menyebut konvensi Partai Demokrat telah kehilangan daya tariknya. Hal itu diindikasikan dengan mundurnya sejumlah tokoh kuat dari konvensi.
Menurut Hamdi, nama-nama besar peserta konvensi yang memutuskan untuk mundur, maka tujuan untuk menaikkan pamor partai dengan diselenggarakannya konvensi akan sulit terwujud.
"Pasti dong, karena dianggap nama-nama yang cukup kuat itu kan Jusuf Kalla, Mahfud MD, Dahlan Iskan. Jika JK dan Mahfud mundur tentu akan semakin berkurang gengsinya," ujar Hamdi di Sekretariat Partai Serikat Independen (SRI), Pasar Manggis, Jakarta Selatan, Kamis (29/8/2013).
Hamdi juga mengatakan, jika konvensi dimaksud untuk menaikkan pamor partai, langkah demokrat dalam menggelar konvensi dengan mengundang tokoh-tokoh eksternal justru akan menciptakan efek yang keliru.
"Itu (konvensi) kan (harusnya) mekanisme nominasi terhadap calon internal. Jadi digaet dari bawah dan ujikan ke publik, itu dilakukan karena kadernya bagus. Kalau justru mengejar kader dari luar apakah justru bukan sebaliknya? Seolah-olah miskin kader," tuturnya.
"Nanti akan terbukti apakah memang menaikan konvensi," ujarnya.


Tolak Ikut Konvensi, Rustriningsih Merasa Tak Ditekan PDIP


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah yang juga kader PDI Perjuangan, Rustriningsih menegaskan keputusannya menolak ikut konvensi Calon Presiden Partai Demokrat adalah pilihan dirinya sendiri.
PDI Perjuangan, partai tempatnya bernaung tak pernah menekan dirinya untuk melakukan penolakan.
"Saya kira tidak ada tekanan," ujar Rustri, Kamis (29/8/2013).
Bahkan dia juga yakin, Ketua Umum PDI Perjuangan memberikan kepercayaan begitu besar kepada para kader untuk mengerti hal-hal yang bisa dilakukan dan tidak. Termasuk terkait keputusan yang akan diambil Rustri menjawab undangan komite konvensi Capres.
Lebih lanjut Rustri juga berharap, penolakannya untuk tidak mengikuti tahapan konvensi selanjutnya di depan Komite mengakhiri perdebatan selama ini.
"Mudah-mudahan demikian. Tidak ada lagi yang mempersepsikan lain-lain. Walaupun ada ucapan kasar dan itu saya mengerti karena mereka tidak mengikuti saya sejak awal. Saya sangat memaklumi dan kita lihat latar belakangnya," kata Rustri.


Fuad Bawazier Cs Terus Goyang Pencapresan Wiranto


Jakarta - Internal Hanura bergoyang semakin kencang pasca deklarasi duet Wiranto-Harry Tanoesoedibjo. Semakin mendekati Pileg goyangan semakin kencang, kini Fuad membandingkan Wiranto dengan Jokowi dan memposisikan Ketua Umum Hanura tersebut sebagai capres papan bawah.

"Jadi saya golongkan capres itu ada tiga, ini berdasarkan hasil survei lho ya. Papan atas itu Jokowi dan Prabowo, papan menengah itu Mega dan Aburizal Bakrie, dan papan bawah, ya Wiranto, Hatta Rajasa, Rhoma Irama, itu papan gurem," kata Fuad, Rabu (28/8) kemarin. 

Menurut Fuad, Wiranto tak akan bisa memenangi pilpres. Dia menyarankan agar para capres gurem, termasuk Wiranto, mengurungkan niatnya untuk nyapres. "Kasihan saya itu, jadinya buang energi, buang uang," ujar Fuad.

Fuad memang sejak awal menggoyang pencapresan Wiranto. Mantan Menteri Keuangan ini terus mempersoalkan pencapresan Wiranto-HT tidak sesuai dengan aturan partai.

Namun agaknya Fuad cukup disegani di internal Hanura. Tak banyak petinggi Hanura yang berani melawan pernyataannya. Ketua Fraksi Hanura DPR Syarifuddin Sudding yang ditanya soal manuver keras Fuad di sela-sela rapat paripurna di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (29/8/2013) memilih terdiam.

Suara-suara membela Wiranto hanya kecil terdengar, misalnya dari Ketua DPP Hanura Ali Kastela yang tak rela ketua umumnya diangga capres kelas teri. "Belum tentu dong, itu kan survei, nggaklah, nggak gurem," kata Ali, Rabu (28/8).

Penentangan Fuad Bawazier jelas sangat keras. Namun mengapa Wiranto tak mengambil sikap tegas memecat Fuad dari kepengurusan Hanura? Apakah Fuad punya jaringan kuat di Hanura?


Sumber : http://news.detik.com/read/2013/08/29/105111/2343880/10/fuad-bawazier-cs-terus-goyang-pencapresan-wiranto

(van/nrl)



Rakernas PDIP Tidak Tutup Kemungkinan Bahas Calon Presiden


Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PDI Perjuangan akan menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Ancol, 6-8 September 2013. Dalam pertemuan tersebut tidak menutup kemungkinan untuk membahas calon presiden yang diusung pada Pemilu 2014.
"Ya memang kan usulan-usulan itu Insya Allah akan kami tampung dalam rakernas yang akan datang ini," kata Ketua DPP PDIP Puan Maharani di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (29/8/2013).
Namun, Puan mengaku belum mengetahui apakah nama-nama kandidat juga akan muncul dalam Rakernas tersebut. Ia juga belum mendapatkan informasi apakah pengurus daerah hanya akan mengusulkan kriteria internal dan eksternal calon presiden.
"Ini yang akan kami bicarakan secara internal . Itulah gunananya rakernas yang akan datang ini. Apa dan bagaimana, siapa akan diusulkan dalam forum rakernas ini," tuturnya.
Puan mengatakan dalam Rakernas, pengurus dapat terbaku sesuai aturan dan mekanisme. Ia mengingatkan bahwa calon presiden merupakan kewenangan penuh dari ketua umum PDIP Megawati Soekarnoputri.
"Saya belum denger hal tersebut, tapi kalau kemudian mengerucut nama Jokowi saya rasa itu belum. Tentu saja akan ada rapat internal tertutup dimana dinamika perkembangan politik yang terjadi akhir ini akan kami bahas bersama dan kami pertimbangkan bersama untuk dipikirkan ke ketum," katanya.


Siapa Pesaing Kuat Jokowi di Pemilihan Presiden 2014?


TRIBUNNEWS.COM - Pesaing Jokowi yang elektabilitasnya tak terbantahkan lagi, bisa muncul dari Konvesi Partai Demokrat. Terlepas dari hasil survey beberapa bulan terakhir yang mencatat anjloknya elektabilitas Demokrat, namun de facto Demokrat adalah partai berkuasa, yang pada pemilu 2009  meraih hampir 22 juta suara (20,85 persen ).
“Konvensi Demokrat yang sedang berjalan harus dinilai sebagai upaya demokratik memenangi pemilu dan pilpres 2014, yang hasilnya tidak dapat diabaikan apalagi dipandang sebelah mata oleh parpol-parpol peserta pemilu,” ujar Mulyana W Kusumah, pengamat politik dari Universitas Indonesia, di Jakarta Kamis (29/8/2013) sore, seperti rilis yang diterima redaksi Tribunnews.com.
 Para peserta konvensi adalah figur yang tidak dapat dipungkiri ketokohannya secara nasional. Rekam jejak mereka pun diakui. Untuk menyebut beberapa contoh, misalnya  Jenderal Purn TNI Pramono Edhie Wibowo jelas memiliki reputasi karir dan berbasis dukungan politik Cikeas.
Kemudian, ada Dahlan Iskan , menteri dengan reputasi dan kinerja yang diakui, Gita Wiryawan memiliki visi pembangunan ekonomi yang kuat, Irman Gusman Ketua DPD yang keanggotaan mendapat legitimasi kuat, Anis Baswedan, intelektual muda sangat prospektif.


Bos Lion Air dan Rustriningsih Diundang Komite Malam Ini


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Usai mantan Ketua Mejelis Konstitusi (MK), Mahfud MD, dua nama lain juga turut diundang Komite Konvensi calon presiden Kamis (29/8/2013) malam ini.
Juru bicara komite Partai Demokrat, Rully Charis mengungkapkan CEO Lion Air Rusdi Kirana dan kader PDIP Rustriningsih.
"Ada dua lagi, Pak Rusdi Kirana dan Bu Rustriningsih," ujar Rully Charis kepada wartawan di Wisma Kodel, Jakarta, Kamis.
Menurut penuturannya, berdasarkan jadwal Rusdi akan bertemu Komite Konvensi pukul 18.30 WIB dan Rustri pada pukul 19.30 WIB.
Lebih lanjut menurutnya, usai dua tokoh ini proses pra-konvensi sudah selesai dengan jumlah tokoh yang diundang komite sebanyak 14 orang.
"Ini hari terakhir, besok tinggal pengumuman dan penyampaian hal teknis kepada tim," katanya.
Sedangkan Jumat (30/8/2013) besok, komite akan menetapkan peserta konvensi Capres Parati demokrat.


Akbar Tandjung: Jusuf Kalla dan Jokowi Pasangan Ideal


TRIBUNNEWS.COM - Politisi senior Partain Golkar, Akbar Tandjung, mendukung kesiapan mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK) berduet dengan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo pada Pemilu Presiden 2014. Akbar Tandjung mengaku telah lama mendengar cerita kedekatan JK dengan Jokowi.
"Jusuf Kalla siap, bahkan dia menyatakan hubungan saya (JK) dengan Jokowi sudah lama," kata Akbar Tandjung di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (29/8/2013). Menurut Akbar, pasangan tersebut sangat bagus dan berpeluang di Pemilu 2014. "Karena dia bagus, pasangan Jawa dan non Jawa," kata Akbar.
Lalu apakah Akbar mendukung pasangan tersebut? "Terserah Pak JK," katanya.
Sebelumnya Jusuf Kalla telah menyatakannya kesiapannya maju dalam pemilihan presiden dan wakil presiden tahun 2014, bersama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi.
"Bagi saya, hanya satu, selama itu bisa bermanfaat bagi rakyat dan negara, saya siap melaksanakannya jika bersama Pak Jokowi (Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta)," kata Jusuf Kalla, Selasa (27/8/2013) siang.
Menurut Jusuf Kalla, Jokowi termasuk sosok yang didorongnya saat akan menjadi calon gubernur DKI Jakarta tahun lalu. Jokowi, menurut Jusuf Kalla, adalah sosok yang memiliki kepribadian yang baik, memiliki kemampuan, bisa mengambil keputusan, dan mampu memenuhi aspirasi rakyat. "Lebih penting lagi, jika saya bersama Jokowi, ada yang bilang, itu sebuah harmoni, antara perwakilan Jawa dan luar Jawa," tambahnya.
Namun Kalla menyatakan, semuanya itu kembali lagi pada sikap Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan DPP PDI-P serta rakyat sendiri.

Dahlan Iskan Idamkan Partai Demokrat Sejak Lama


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bukan tanpa alasan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan mengikuti undangan sebagai peserta calon presiden lewat Konvensi Partai Demokrat. Ia mengaku sudah mengidamkan adanya partai tengah yang kuat. Baginya, kriteria itu ada di Partai Demokrat.
"Saya menerima tawaran melalui Demokrat karena sejak lama sudah menginginkan semacam idealisme bahwa Indonesia yang begini besar, beraneka ragam memerlukan partai tengah yang kuat. Dan Demokrat adalah partai tengah," ujar Dahlan usai sesi prakonvensi di Jakarta, Kamis (29/8/2013).
Dahlan mengakui, partai berlambang segi tiga mercy dalam perjalannya tersandung kasus korupsi sejumlah kader. Namun, apapun masalah yang terjadi tetap bisa diperbaiki. Inilah yang menjadi pertanyaan dirinya, dan pada akhirnya menerima undangan.
"Kenapa saya tidak memilih partai tengah yang lain, karena yang menawari saya Demokrat. Dan partai tengah lain sudah punya calon sendiri, sehingga komitmen saya Indonesia harus mempunyai partai tengah yang besar. Karena Indonesia adalah negara besar yang beraneka ragam," tambahnya.
Ketika dikonfirmasi, apakah dirinya akan menerima pinangan partai lain jika kemudian kalah dalam pencapresan di Konvensi, Dahlan menjawab diplomatis. Menurutnya, perjalanan masih panjang, dan banyak hal yang bisa berubah selama itu.
Dalam peraturan Komite, peserta yang terpilih sebagai capres harus masuk sebagai kader Demokrat, dan Dahlan menjawab tantangan itu. Ia mengaku, itulah konsekuensi yang harus dipenuhi kalau lolos dan dicalonkan Partai Demokrat. Dahlan enggan menjadi bunglon dan munafik.
"Begitu menjalani proses ini sudah tergambarkan menjdi kader, dan jadi kader Demokrat tidak jelek. Apalagi visi saya ingin Indonesia mempunyai partai tengah kuat, ini ideologis. Kalau tak lolos apakah akan ke partai lain, rasanya tidak, dan bukan karena tak mau. Cuma semua partai sudah punya calon sendiri," tegasnya.


Komite Hormati Sikap Mahfud MD yang Batal Ikut Konvensi Capres


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menyusul keputusan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD yang batal mengikuti konvensi capres, Komite Konvensi Partai Demokrat mengaku tidak mempermasalahkan. Mereka menghormati keputusan tersebut.
"Kita menghormati keputusan yang diambil pak  Mahfud," ujar Juru Bicara Komite Konvensi, Hinca Panjaitan di Wisma Kodel, Jakarta, Kamis(29/8/2013).
Sebagaimana diketahui, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK)Mahfud MD menolak ikut menjadi peserta konvensi calon presiden Partai Demokrat.
Hal itu terungkap kala pemandangan berbeda tersuguhkan di Sekretariat Komite Konvensi, Wisma Kodel, Jakarta, Kamis (29/8/2013) sore. Hanya sekitar lima menit Mahfud MD bertemu dengan komite konvensi calon presiden Partai Demokrat di Wisma Kodel, Kuningan, Jakarta.
Sontak para awak media kaget. Pasalnya berdasarkan pengalaman peserta sebelumnya, waktu satu jam dibutuhkan dalam wawancara pra-konvensi.
Ditemani Jubir Komite Konvensi, Hinca Panjaitan, dan Suaedy Marasabessy selaku Sekretaris merangkap anggota Komite, Mahfud langsung menyatakan sikapnya. Dia pun langsung membacakan pernyataan dirinya seperti yang juga dibacakannya di hadapan komite.


PDIP Pertimbangkan Jokowi Berduet dengan JK


Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PDI Perjuangan menerima wacana duet Jusuf Kalla- Joko Widodo pada Pemilu 2014. Hal itu terungkap setelah JK panggilan akrab Jusuf Kalla menyatakan kesiapannya berduet dengan Jokowi.
"Wacana itu semuanya kita tampung dan jadi masukan yang kita pertimbangan," kata Ketua DPP PDIP Puan Maharani di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (29/8/2013).
Namun, Puan mempertanyakan apakah JK mau bergabung ke PDI Perjuangan. Sementara, JK masih tercatat sebagai politisi Golkar.
"Apakah benar pak JK mau ikut bersama PDIP. Kan Golkar sudah punya jadi capres. Kalau Pak JK ikut ke PDIP mewakili siapa Golkar atau secara pribadi," tuturnya.
Mengenai hasil survei pasangan tersebut yang menguat, Puan menilai hal itu wajar. Apalagi dinamika politik terus berkembang.
"Kita tidak tahu menjelang pileg mendatang. Masih ada tiga bulan sampai pileg apakah kita akan pileg atau kemudian nggak. Ini komunikasi intensi," ujarnya.
Sebelumnya, Wakil Presiden periode 2004-2009 Jusuf Kallamenegaskan, siap maju dalam pemilihan presiden dan wakil presiden tahun 2014, bersama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi.
"Bagi saya, hanya satu, selama itu bisa bermanfaat bagi rakyat dan negara, saya siap melaksanakannya jika bersama Pak Jokowi (Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta)," kata Jusuf Kalla, Selasa (27/8/2013) siang.
Menurut Jusuf Kalla, Jokowi termasuk sosok yang didorongnya saat akan menjadi calon gubernur DKI Jakarta tahun lalu.
Jokowi, menurut Jusuf Kalla, adalah sosok yang memiliki kepribadian yang baik, memiliki kemampuan, bisa mengambil keputusan, dan mampu memenuhi aspirasi rakyat.
"Lebih penting lagi, jika saya bersama Jokowi, ada yang bilang, itu sebuah harmoni, antara perwakilan Jawa dan luar Jawa," tambahnya.
Namun, Kalla menyatakan, semuanya itu kembali lagi pada sikap Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan DPP PDI-P serta rakyat sendiri.


PDIP Punya Kedekatan Secara Baik Dengan JK


Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Wakil PresidenJusuf Kalla menyatakan siap maju pada Pemilu 2014 bersama Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo. Jokowi yang notabennya kader PDIP belum memberi jawaban hingga kini.
Soal itu, Ketua DPP PDIP Maruarar Sirait mengatakan pihaknya belum membahas mengenai calon presiden pada pemilu 2014. Meskipun sejumlah survei menempatkan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri dan Joko Widodo di peringkat teratas calon presiden.
"Potret hari ini, dan dua bulan lalu berbeda tergantung prestasi seseorang dan pandangan publik. Bagi PDIP menjadi penting untuk pemilihan presiden untuk berhati-hati," kata Maruarar di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (29/8/2013).
Maruarar juga mengakui pihaknya mencermati setiap hasil survei. Ia melihat dengan sendiri bagaimana publik merespon Joko Widodo bila berkunjung ke daerah. Setidaknya, Maruarar bersama Jokowi telah berkunjung ke Jawa Barat, Jawa Timur, Bali dan Sumatera Utara.
"Respon publik di daerah memang terlihat," ujarnya.
Sementara mengenai JK, Anggota Komisi XI itu mengakui partainya dekat dengan Ketua PMI itu. JK, kata Maruarar, merupakan negarawan dan tokoh bangsa. Hubungan PDIP dan JK pun sangat baik.
Marurar mencontohkan saat JK menggelar acara pernikahan anaknya. "Bu Mega, Mas Tjahjo, Mba Puan dan saya," katanya.
Namun, diakui belum ada pembicaraan mengenai pencapresan. "Kegiatan PDIP, Pak JK kita undang dan hadir seperti di Jawa Tengah atau di Jakarta soal Rohingya, kami selalu komunikasi," ungkapnya.


Wacana Calon Presiden, PDIP Akui Hubungan Baik Dengan Jusuf Kalla

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla siap maju pada Pemilu 2014 dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Jokowi yang merupakan kader PDIP belum memberi jawaban hingga kini.
Ketua DPP PDIP Maruarar Sirait mengatakan pihaknya belum membahas mengenai calon presiden pada pemilu 2014. Meskipun sejumlah survei menempatkan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri dan Joko Widodo di peringkat teratas calon presiden.
"Potret hari ini, dan dua bulan lalu berbeda tergantung prestasi seseorang dan pandangan publik. Bagi PDIP menjadi penting untuk pemilihan presiden untuk berhati-hati," kata Maruarar di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (29/8/2013).
Maruarar juga mengakui pihaknya mencermati setiap hasil survei. Ia melihat dengan sendiri bagaimana publik merespon Joko Widodo bila berkunjung ke daerah. Setidaknya, Maruarar bersama Jokowi telah berkunjung ke Jawa Barat, Jawa Timur, Bali dan Sumatera Utara.
"Respon publik di daerah memang terlihat," ujarnya.
Sementara mengenai JK, Anggota Komisi XI itu mengakui partainya dekat dengan Ketua PMI itu. JK, kata Maruarar, merupakan negarawan dan tokoh bangsa. Hubungan PDIP dan JK pun sangat baik.
Marurar mencontohkan saat JK menggelar acara pernikahan anaknya. "Bu Mega, Mas Tjahjo, Mba Puan dan saya," katanya.
Namun, diakui belum ada pembicaraan mengenai pencapresan. "Kegiatan PDIP, Pak JK kita undang dan hadir seperti di Jawa Tengah atau di Jakarta soal Rohingya, kita selalu komunikasi," ujarnya.

Batal Ikut Konvensi Capres, Mahfud MD Dinilai Melek Politik


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menilai keputusan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menolak ikut menjadi peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat.
"Itu artinya Mahfud MD paham dan mengerti Politik," tegas Fadli kepada Tribunnews.com, Kamis (29/8/2013).
Fadli mengatakan, keputusan mantan Ketua MK menunjukkan dirinya paham dan mengerti Politik. Ada Politik dengan "P" besar itu untuk kepentingan negara, kepentingan besar. Sedangkan Politik dengan "P" kecil, sekedar permainan taktis sesaat.
Menurutnya, ajang konvensi tentu menyajikan tawaran menggiurkan dan bisa membuat orang yang semula tak ambisi bisa menjadi ambisius. Namun bacaan terhadap realitas politik seseorang menunjukkan kalibernya. 
Apakah proses politik itu benar-benar untuk kepentingan nasional kepentingan bangsa, atau sekedar taktik politik jangka pendek.
Menurutnya, ada yang terjebak, dan ada juga yang tetap sadar dan waras.
"Namun itu hak setiap orang, dan proses Politik dalam menjaring capres harus dihargai. Sah-sah saja," jelas dia.


Gerindra Apresiasi Sikap Mahfud MD Batal Ikut Konvensi Capres Demokrat


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra, Martin Hutabarat mengapresiasi sikap Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menolak ikut menjadi peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat.
Menurut Martin, Mahfud MD kritis dan tajam melihat ide konvensi yang hanya digunakan sebagai alat pencitraan semata.
"Mereka-mereka yang diajak ikut konvensi dijadikan sebagai aktor bermain dalam sebuah skenario yang dimainkan sutradaranya. Mahfud menyadari benar hal itu, makanya dia menolak," ujar Martin kepada Tribunnews.com, Kamis (29/8/2013).
Martin menilai pengamatan Mantan Ketua MK ini tajam melihat hal-hal yang ada dibalik niatan Konvensi, dan disertai integritas yang tinggi untuk mengambil sikap seperti ini.
Lebih lanjut Martin menjelaskan sekarang Mahfud bermain dan memainkan dirinya dipanggung yang diciptakannya sendiri.
"Apapun hasilnya, Mahfud sudah menunjukkan kelasnya yang memang beda. Bukan menjadi figuran di panggung yang dibuat orang lain, tanpa ada jaminan akan dicalonkan oleh partai yang mengusung konvensi ini," tuturnya.
Sebegaimana diberitakan, Mahfud MD menolak ikut menjadi peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat.
Hal itu terungkap kala pemandangan berbeda tersuguhkan di Sekretariat Komite Konvensi, Wisma Kodel, Jakarta, Kamis (29/8/2013) sore. Hanya sekitar lima menit Mahfud MD bertemu dengan Komite Konvensi Calon Presiden Partai  Demokrat di Wisma Kodel, Kuningan, Jakarta.
Sontak para awak media kaget. Pasalnya berdasarkan pengalaman peserta sebelumnya, waktu satu jam dibutuhkan dalam wawancara pra-konvensi.
Ditemani Jubir Komite, Hinca Panjaitan, dan Suaedy Marasebessy selaku Sekretaris merangkap anggota Komite, Mahfud langsung menyatakan sikapnya. Dia pun langsung membacakan pernyataan dirinya seperti yang juga dibacakannya di hadapan komite.


Ini Surat Pengunduran Diri Mahfud MD dari Konvensi Capres Demokrat


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ruangan konferensi pers, tempat pemaparan peserta calon presiden Konvensi Partai Demokrat di Wisma Kodel lantai 11, Jakarta, Kamis (29/8/2013) sore, tiba-tiba riuh. Tanpa diduga, Mahfud MD yang diundang Komite Konvensi mengajukan menolak ikut.
Wartawan sangat terkejut, pasalnya Mahfud tidak sampai satu jam, waktu yang hampir kebanyakan digunakan peserta selama wawancara dengan Komite Konvensi, keluar dalam hitungan beberapa menit. Ini membuat wartawan bertanya-tanya kenapa Mahfud begitu cepat.
Pertanyaan itu langsung terjawab. Diapit Sekretaris dan anggota Komite Konvensi, Suaedy Marasabesy dan Hinca Panjaitan sambil duduk di sofa yang tersedia, Mahfud membacakan dua helai kertas di tangannya. Nada suaranya mantap, konstan, Mahfud membacakan isi suratnya, yang ia bacakan juga di depan Komite.
Apa sebetulnya isi surat yang melatarbelakangi, berikut pertimbangan Mahfud sampai tidak mengikuti Konvensi Capres Partai Demokrat, ini lengkapnya:
Jakarta, 29 Agustus 2013.
Kepada Yth. Komite Konvensi Partai Demokrat
di
Jakarta.
Assalamu Alaikum Wr. Wb.
Sehubungan dengan Konvensi Partai Demokrat yang proses perekrutan pesertanya sudah dimulai pada bulan Agustus 2013 ini, maka dengan penuh hormat saya sampaikan bahwa:
Pertama:
Saya menyampaikan terimakasih atas undangan komite, baik yang disampaikan melalui surat resmi bernomor 09/B/KOMITE/VIII/2013 maupun yang disampaikan secara langsung dengan lisan oleh anggota-anggota komite, melalui pertemuan-pertemuan tatap muka dan telepon, agar saya mengikuti Konvensi Partai Demokrat dalam penjaringan calon presiden Republik Indonesia. Saya sungguh merasa terhormat dan mengapresiasi kehormatan komite yang telah menyampaikan undangan tersebut.
Kedua:
Saya juga telah menerima permintaan dari Partai Demokrat melalui Sekretaris Tinggi Bapak Jero Wacik, baik melalui telepon maupun tatap muka, serta dorongan kuat dari beberapa tokoh Partai Demokrat dan organisasi sayapnya. Saya sungguh terharu dan merasa terhormat, serta menyampaikan terimakasih kepada sahabat-sahabat di Partai Demokrat.
Kedua:
Menurut saya penyelenggaraan konvensi ini merupakan pilihan cerdas dan bijaksana untuk menterjemahkan ketemuan Pasal 6A UUD 1945 ke dalam realitas politik yang dibutuhkan oleh masyarakat tanpa harus terburu-buru mengalternatifkan amandemen Pasal 6A UUD 1945. Bahwa dibalik penyelenggaraan konvensi ada motif untuk menaikkan elektabilitas Partai Demokrat menurut saya hal tersebut sah adanya sebab setiap parpol memang harus berusaha menaikkan elektabilitasnya melalui jalan-jalan yang konstitusional. Pilihan konvensi yang meminta rakyat untuk "memilihkan" calon presiden untuk Partai Demokrat sungguh merupakan terobosan yang baik dalam memberi tafsir dinamis atas ketentuan konstitusi yang selama ini dianggap terlalu membelenggu.
Keempat:
Meskipun begitu, saya merasa bahwa saya pribadi tidak harus mengikuti kontes politik yang baik tersebut karena beberapa hal:
1. Ada pertanyaan di bekak saya yang sampai sekarang belum menjawab meskipun saya sudah menyampaikannya, langsung kepada anggota Komite Konvensi maupun melalui media massa, "Mengenai Hak dan Kewajiban Peserta Konvensi dan Partai Demokrat" terutama setelah konvensi selesai dan pemenangnya sudah ditetapkan serta hasil pemilu legislatif sudah selesai. Selama ini saya hanya mendengar penjelasan dan jaminan lisan, tanpa ada yang tertulis, sementara AD/ART Partai Demokrat menentukan mekanisme yang berbeda dengan berbagai penjelasan dan jaminan lisan tersebut.
2. Para Guru saya yaitu kyai-kyai dari pondok pesantren, tokoh-tokoh perseorangan terkemuka di NU, Muhammadiyah, dan gereja serta kolega-kolega di berbagai perguruan tinggi, tokoh-tokoh masyarakat, dan komunitas-komunitas di massa saya bergaul dan ikut memimpin, banyak yang menyarankan agar saya tidak ikut konvensi tanpa mengurangi rasa hormat kepada Partai Demokrat. Saya akui ada juga beberapa kawan yang menyarankan agar saya ikut konvensi karena konvensi dianggap peluang untuk mendapat tiket menjadi Capres dan dianggap sebagai niat baik dari Partai Demokrat".
Kelima:
Berdasarkan hal-hal yang disebutkan pada butir keempat dan setelah saya merenung dan berkonsultasi kepada Allah SWT melalui salat istikharah serta mendiskusikan secara mendalam dengan Tim Politik Saya maka saya memutuskan untuk tidak mengikuti konvensi Partai Demokrat. Saya turut berdoa agar partai Demokrat dapat memperoleh calon presiden yang baik agar masa depan Indonesia ini menjadi lebih baik pula.
Baik kepada pimpinan Partai Demokrat maupun kepada Komite Konvensi, selain ucapan terimakasih yang telah dikemukakan di awal surat ini saya juga memohon maaf yang sebesar-besarnya. Marilah kita berjuang untuk membangun kebaikan bagi Indonesia melalui berbagai pintu yang berbeda (min abwaabin mutafarriqah) dengan tujuan yang sama yaitu memperbaiki Indonesia.
Dengan segala hormat saya
Moh. Mahfud MD
Tembusan:
Pimpinan Partai Demokrat di Jakarta.
Ketua Yayasan 135 di Jakarta
Usai membacakan surat itu, Mahfud mempertegas, apa yang tertulis di dalamnya sudah jelas. Sehingga ia mengatakan tidak ada lagi sesi tanya jawab. Mahfud pun keluar dari ruangan konferensi pers, dan langsung menuju lift untuk pulang. Di tengah waktu sedikit itu, Mahfud sama sekali tidak komentar ditanyai wartawan.


Partai Demokrat Tidak Kecewa Mahfud MD Batal Ikut Konvensi


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Keputusan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menolak ikut menjadi peserta konvensi calon presiden tidak membuat Partai Demokrat kecewa.
Apalagi menurut Suaedy Marasabesy selaku Sekretaris Komite Konvensi Capres, ketentuan mekanisme konvensi juga sudah menyatakan setiap peserta diberikan hak untuk mengundurkan diri.
"Tidak ada kecewa. Hak politik seseorang kita hormati. Kita berikan ruang seluas-luasnya bagi tokoh nasional untuk menggunakan ini. Terus kalau tidak menggunakan ngapain kecewa," kata Suaedy di Wisma Kodel, Jakarta, Kamis (29/8/2013).
Suaedy mengatakan dalam ketentuan mekanisme konvensi, setiap peserta diberikan hak untuk mengundurkan diri. Jadi kalau Mahfud MDmenolak, itu adalah hal politiknya untuk memutuskan ikut atau tidak.
Dia juga mengaku baru tahu keputusan Mahfud tidak ikut konvensi tadi saat mantan Ketua MK itu memenuhi undangan dan bertemu Komite Konvensi.
Sebagaimana diberitakan, Mahfud MD menolak ikut menjadi peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat.
Hal itu terungkap kala pemandangan berbeda tersuguhkan di Sekretariat Komite Konvensi, Wisma Kodel, Jakarta, Kamis (29/8/2013) sore. Hanya sekitar lima menit Machfud MD bertemu dengan Komite Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat di Wisma Kodel, Kuningan, Jakarta.
Sontak para awak media kaget. Pasalnya berdasarkan pengalaman peserta sebelumnya, waktu satu jam dibutuhkan dalam wawancara pra-konvensi.
Ditemani Jubir Komite, Hinca Panjaitan, dan Suaedy Marasebessy selaku Sekretaris merangkap anggota Komite, Mahfud langsung menyatakan sikapnya. Dia pun langsung membacakan pernyataan dirinya seperti yang juga dibacakannya di hadapan komite.


Mendadak, Mahfud MD Membatalkan Diri Ikut Konvensi Capres Demokrat


TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menolak ikut menjadi peserta konvensi calon presiden Partai Demokrat.
Hal itu terungkap kala pemandangan berbeda tersuguhkan di Sekretariat Komite Konvensi, Wisma Kodel, Jakarta, Kamis (29/8/2013) sore. Hanya sekitar lima menit Mahfud MD bertemu dengan komite konvensi calon presiden Partai Demokrat di Wisma Kodel, Kuningan, Jakarta.
Sontak para awak media kaget. Pasalnya berdasarkan pengalaman peserta sebelumnya, waktu satu jam dibutuhkan dalam wawancara pra-konvensi.
Ditemani Jubir Komite Konvensi, Hinca Panjaitan, dan Suaedy Marasabessy selaku Sekretaris merangkap anggota Komite, Mahfud langsung menyatakan sikapnya. Dia pun langsung membacakan pernyataan dirinya seperti yang juga dibacakannya di hadapan komite.
"Setelah saya merenung dan berkonsultasi kepada Allah SWT melalui salat istikharah serta mendiskusikan secara mendalam dengan tim politik saya, maka saya memutuskan untuk tidak mengikuti konvensi Partai Demokrat," kata Mahfud MD.
Menurut Mahfud, secara pribadi dirinya merasa tidak harus mengikuti konteks politik konvensi karena beberapa hal.
Pertama, adanya pertanyaan di benaknya yakni mengenai hak dan kewajiban peserta konvensi dan Partai Demokrat terutama setelah konvensi selesai dan pemenangnya sudah ditetapkan serta hasil pemilu legislatif sudah selesai.
Pertanyaan itu hingga sekarang belum terjawab meskipun dirinya sudah menyampaikannya langsung kepada anggota komite maupun melalui media.
"Selama ini saya hanya mendengar penjelasan dan jaminan lisan, tanpa ada yang terulis, sementara AD/ART Partai Demokrat menentukan mekanisme yang berbeda dengan berbagai penjelasan dan jaminan lisan tersebut," tegas dia.
Lebih lanjut menurut Mahfud keputusan ini diambilnya setalah berkomunikasi dengan para guru yaitu kiai-kiai dari pondok pesantren, tokoh-tokoh perseorangan termuka di NU, Muhammadiyah, dan gereja serta kolega-kolega di berbagai perguruan tinggi. Pun demikian dengan tokoh-tokoh masyarakat dan komunitas-komunitas dimana dirinya bergaul dan ikut memimpin.
"Banyak yang menyarankan agar saya tidak ikut konvensi tanpa mengurangi rasa hormat kepada Partai Demokrat," ujarnya.


8 dari 10 Analis Jagokan Jokowi Jadi Presiden


TEMPO.COJakarta - Sejumlah pengamat dan analis politik memprediksi Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi akan muncul sebagai calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Bahkan, dalam survei lewat telepon yang digelar Tempo selama tiga hari sejak Senin hingga Rabu, 28 Agustus 2013, delapan dari 10 analis politik menjagokan mantan Wali Kota Solo, Jawa Tengah, itu memenangkan kursi R1 dalam Pemilihan Umum 2014.

Direktur Riset Charta Politica Indonesia Yunarto Wijaya, satu dari 10 analis yang ikut disurvei, mengatakan Jokowi memiliki kans terbesar menduduki kursi Presiden. Keyakinannya itu mengacu pada rilis sejumlah lembaga survei nasional yang kerap kali menempatkan Jokowi sebagai tokoh yang paling tinggi elektabilitasnya. "Kalau tidak ada perubahan yang cukup besar, Jokowi tidak terbendung," kata Yunarto Wijaya.

Dalam hasil survei Opinion Makers dan Pakar yang dirilis lembaga survei Pol-Tracking Institute Agustus lalu, gubernur terpilih DKI Jakarta, Joko Widodo atau Jokowi, menempati peringkat pertama. Ia menggungguli 34 nama lain, seperti Anies Baswedan dan Sri Mulyani Indrawati. Demikian pula dalam Survei Nasional Partisipasi Politik dan Perilaku Memilih Pra-Pemilu 2014 yang digelar Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), akhir Juni lalu. Jokowi mengalahkan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Tak semua analis politik sepakat Jokowi bakal menduduki kursi presiden. Misalnya saja, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia Arbi Sanit. Menurut Arbi, rilis beberapa lembaga survei yang menempatkan Jokowi sebagai tokoh tertinggi elektabilitasnya belum mengatakan apa pun. "Survei sekarang banyak biasnya," katanya. Arbi menegaskan, Jokowi bakal tak terbendung di Pilpres 2014 kalau kalangan menengah ke atas ikut mendukungnya. Selama ini Jokowi hanya didukung oleh kalangan menengah ke bawah. Demikian juga dengan Kacung Marijan, guru besar Ilmu Politik Universitas Airlangga, yang ragu Jokowi bakal maju dalam pilpres. "Masih tanda tanya apakah Megawati bersedia melepaskan jatahnya sebagai calon presiden dari PDI Perjuangan."

Ketua Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan Puan Maharani meminta publik untuk tidak selalu mengaitkan Jokowi dengan pencalonan presiden. Ia menegaskan, partainya memiliki banyak tokoh potensial di samping Jokowi. Kader lain yang disebut Puan, antara lain Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur Kalimantan Timur Teras Narang, dan Gubernur Kalimantan Barat Cornelius Lay. "Masih banyak juga bupati dan wali kota lain," katanya.

Menurut Puan, hingga kini PDI Perjuangan belum menentukan calon presiden yang akan diusung oleh partai berlambang banteng itu. Yang akan menentukan tokohnya, menurut Puan, adalah Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. Puan pun juga enggan menanggapi kabar yang menyebutkan Megawati menolak maju menjadi calon presiden pada pemilu mendatang. "Saya tidak tahu, mungkin Anda lebih tahu."